Kak Gilang dan dek Afi, Ragu bukan karena teks melainkan pengetahuan yang belum kesampaian.

Benar kata dek afi “kita memang tidak mesti berfikiran sama, tapi mari kita sama2 berfikir”. Berfikir yang kita maksud disini mesti mengarah pada berfikir yang sebenarnya dimana tidak melanggar hukum berfikir supaya tdk jatuh dalam jurang kesesatan berfikir.

Diskusi menarik antara kak gilang dan dek afi dimana di satu sisi mempertahankan sesuatu dengan alasan tekstual yg mengklaim sesuatu itu benar karena sdh dijelaskan dalam teks, di sisi lain menjelaskan bahwa sesuatu itu tidak dianggap benar karena dirinya sendiri yg menjelaskan kebenaran dirinya, shingga semuanya sama2 mengklaim kebenaran krena tertulis di teksnya masing2. Jadi, kita jangan menggunakan teks untuk sampai pada kebenaran mutlak itu.

Ada beberapa hal yang ingin saya tambahkan bahwa memang ada juga benarnya perkataan dek ifa, utk mengetahui teks itu benar kita jangan mengklaim teks itu benar karena sdh tertulis bahwa dirinya memang benar. Contohnya, saya menulis postingan di fb “postingan fb saya tidak ada keraguan di dalamnya. Blablablabla… “.

Pertanyaannya apakah anda meyakini kebnaran tulisan saya, hnya karena ada proposisi “postingan fb sya tidak ada keraguan di dalamnya” dan proposisi selanjutnya sdh dianggap tdk ada keraguan?

Ataukah anda meragukan tulisan sya hanya karena proposisi “postingn fb sya tidak ada keraguan di dalamnya” dan lantas tdk ingin menerima kebenaran yang tertulis di proposisi selanjutnya.

Posisi adek afi disini, meragukan teks hanya karena tulisan “tidak ada kerguan di dalamnya” kemudian mergukan ayat2 slnjutnya dan dianggap semua teks pegangan agamawan sama2 memiliki muatan tersebut “mengklaim dirinya benar”. Sehingga mengambil ksimpulan, ketika kita ingin menuju kebenaran mutlak sebaiknya kita jangan “pake dalil”. Sebenarnya kebenaran mutlak sperti apa yang adek afi cari?

Kalau yang adek afi cari mengenai nilai2 kemanusiaan, perdamaian, persatuan, kerukunan, kesopanan, kebaikan, keadilan. Manusia sudah bersepakat dengan agama, apa yang dipikirkan oleh manusia tentang kemanusiaan sdh trtulis dalam semua teks atau ajaran. kalau persoalan politik yg dimaksud afi, sebaiknya biarlah itu menjadi pilihan setiap orng asal jangn mengorbankan nilai kemanusiaan itu.

Kemudian, Hanya persoalan ritual sja kita berbeda. Meskipun demikian, akan tetapi scra umum sama2 menyembah kpda zat yang maha sempurna utk menjadi manusia seutuhnya. Karena dengan menjadi manusia seutuhnya maka kita akan mendapatkan keselamatan itu.

Kita mempercayai kebenaran teks, sama halnya kita mempercayai adanya Tuhan. Kita tidak bisa menolak teks tersebut karena dri Tuhan, sama halnya kita tidak bisa menolak bahwa 1 + 1 = 2. Teks dri Tuhan merupakan sumber kebenaran mutlak.

Kalau di katakan masih ada fenomena seperti bayi tabung, merokok dll yg blum trtulis dalam teks bukan berarti teks itu tdk smpurna. Teks itu hanya memberikan gambaran scra umum, silahkan manusia berbuat apa sja yg pasti prtimbngkan mudharatnya atau kerugiannya. Teks adalah petunjuk atau panduan adek afi yg dipruntukkan kpda manusia itu sendiri spya bisa slmt dunia akhirat.

sekian…

Skefo.. 😁
Dulu, waktu SMA, bahkan parahnya sya pernah bermimpi “saya adalah nabi terakhir” krena melakukan pencrian sprti yg adek afi lakukan. Saya juga termasuk orng yg mergukan smua teks dri Tuhan, tapi sya ragu bukan karena teksnya yg tdk sempurna, melainkan pengetahuan sya sendiri yg blum bisa menjangkau arti teks trsbut. Scra perlahan krguan itu trjawab Lewat aktivitas belajar yg sya lakukan.

jadi dulunya berfikir warisan, tapi skrng berfikir sbgai panduan atau petunjuk.

Mungkin itu saja dari saya adek afi dan kak gilang, mudah2n menjadi penyemangat buat kita semua. Berfikir benar tidak membuat kita berbeda, cara berfikirlah yang membuat kita berbeda. Ttd Fajar Ashar

https://m.facebook.com/fajar.milannisti.3?tsid=0.07080504310226265&fref=search

https://m.facebook.com/fajar.milannisti.3?tsid=0.07080504310226265&fref=search

bergabung di nkriku.com bergabung di nkriku.com