oleh

Perempuan dan HAM Antara Bias dan Harapan

-Opini-96 views

Oleh: Upick Baqir
(Direktur Komunitas Mata Literasi)

Makassar, NKRIku.com – Sejarah telah mencatat, bahwa perempuan selalu diposisikan sebagai subjek sekunder atau kata Beauvoir, perempuan secara esensial dipandang sebagai second seks,. Abdurrasul Ghiffari, dalam karyanya, jagat wanita,(2016). Bangsa bagian timur tengah, pada periodesasi masa lalu, perempuan memiliki kedudukan yang lemah, rendah, dipandang sebagai makhluk asing dari luar bangsanya. Masyarakat dominasi dan sistem yang berlaku adalah patriakisme; memandang kaum perempuan sebagai makhluk yang terkutuk, membisikkan kejahatan dan jalan yang sesat.

Agama nasrani menguraikan suatu kisah tentang perempuan sebagai sebab lelaki diusir dari surga. Iblis menyerupai dirinya seperti ular, kemudian menggoda Hawa (perempuan) untuk memakan buah yang dilarang, lalu Hawa memetik buah terlarang itu, dan menggoda Adam (lelaki) untuk memakan bersama-sama buah tersebut. setelah kejadian tersebut mereka semua diusir keluar dari surga. Drama ini menjadi penegasan bahwa perempuan itu lemah imam, akal, sebab mudah digoda, dan jatuh moral.

Pada zaman Yunani Kuno, zaman para filosof kenamaan seperti, Socrates, Plato, dan Aristoteles, pada abad 5 SM. Mereka memandang para perempuan sebagai alat penerus generasi, pengelola rumah tangga, dan pelepas nafsu seksual para lelaki. Bahkan perempuan sebagai istri boleh dipinjamkan kepada sahabat yang sangat dipercai, dan tindakan ini dilakukan atas perintah suami. Karena kehormatan lelaki adalah memerintah, dan perempuan melakukan pekerjaan apa yang diperintahkan dengan diam tanpa bicara.

Masyarakat Pra-Islam yaitu masyarakat jahiliyah memiliki suatu kultural; mengubur anak perempuan yang baru dilahirkan secara hidup-hidup, memperbudak perempuan serta menjualnya pada kabila-kabila lain, dan para lelaki memiliki kebiasaan mengawini perempuan yang sebanyak yang ia suka tanpa aturan dan adat undang-undang. Pada abad pertengahan, St. Thomas Aquinas (1225-1274) mengatakan bahwa, perempuan adalah makhluk yang penciptaannya belum sempurna, tercipta dengan tidak sengaja.
Beberapa uraian diatas, perempuan selalu dipandang sebagai manusia sekunder, makhluk yang menjadi sumber kejatuhan moralitas laki-laki, emosional, rendah, lemah.

Baca Juga: