oleh

Kelompok Egianus Ingin Pisah dari NKRI

JAKARTA, nkriku.com — Kelompok yang menamakan diri Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) ini akhirnya bicara. ” Ingin Papua pisah dari Indonesia ”

Juru bicara kelompok TPNPB akhirnya mau bicara. Alasannya , Papua harus pisah dari Indonesia.

Sebby Sambom, Juru bicara TPNPB mengatakan, jauh sebelum penembakan mengerikan di Nduga tersebut, mereka telah memperingatkan agar pembangunan jalan Trans Papua tidak dilanjutkan.

“Jadi di Yigi itu bukan pembantaian, bukan eksekusi mati seperti yang dikatakan TNI-Polri. Itu penyerangan,” jelasnya , Sebby Sambom saat dihubungi detikcom, yang dikutif JNN, Kamis (6/12/2018) malam tadi sekira pukul 23.25 wita.

Seperti di lansir detikcom , dari percakapan dengan Jubir TPNPB,
Sebby Sambom, bahwa tahun lalu, telah menyerang TNI dan memberi peringatan agar pembangunan jalan Trans Papua tidak dilanjutkan.

Namun peringatan ini , proyek jalan terus sehingga mereka marah dan melakukan penyerangan.

Padahal pembangunan jalan itu semata untuk kesejahteraan warga Papua, sendiri. Sebby malah dengan tegas mengatakan , pihaknya (TPNPB) tidak butuh pembangunan yang disetir pemerintah Indonesia.

Sebby malah menyebut masalah yang terjadi di Papua bukan soal kesejahteraan, tapi masalah politik. ” Maka kelompok yang dipimpin Egianus Kogoya ini menolak semua bentuk pembangunan “.

Selain itu kelompoknya juga tidak mau berkompromi terhadap penawaran apapun. Mereka hanya punya satu tuntutan yang mengancam keutuhan bangsa Indonesia, yakni ingin memisahkan diri dari republik ini. “Berikan kesempatan untuk kami merdeka sendiri,” tegasnya.

BERKEKUATSN 50 ORANG .

Sebelumnya Kapolri Jenderal Tito Karnavian sebelumnya menyebut jumlah kekuatan kelompok kriminal bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya tak lebih dari 50 orang, dilengkapi sekitar 20 pucuk senjata api.

” Saat ini kita (TNI -POLRI) kirim tim gabungan dipimpin langsung oleh Kapolda dan Pangdam bergerak ke sana. Kekuatan mereka tidak banyak, lebih-kurang 30-50 orang dengan 20 pucuk,” jelas Tito di Istana Negara, Jakarta Pusat, dua hari lalu (Rabu 5/12/018).

Sementara, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menyebut 154 personel gabungan dari TNI dan Polri dikirim untuk mengamankan lokasi penembakan pekerja proyek jembatan di jalur Trans Papua. Ini diharapkan rasa aman kepada masyarakat setempat.

” Ke-154 TNI-Polri dikirim untuk pemulihan. Kita tidak ingin masyarakat di sana merasa situasi tidak menentu. Merasa tidak aman dan nyaman,” kata Moeldoko kepada pemberita di kantornya, Jalan Veteran, Jakarta, dua hari laku (5/12/2018) . (Detikcom/JNN-NAS).

Baca Juga: