oleh

Polres Luwu Utara dan Sosialisasi Lalu Lintas, Hadirkan “Public Safety Net dan Serve for the people”

Ngeeng,… bruum bruum, … Ngeeng,… Bruum bruum, …Ngeng, bruum,… Ngeeng, bruum,….”,

Tulisan Contoh bunyi mesin bertalu-talu itu, seakan memberi isyarat betapa amburadulnya kendaraan bila Tanpa konsep berlalu lintas yang baik.

Di zaman semakin maju seiring berjalannya waktu, dalam menggunakan kendaraan kita semakin ditantang Untuk mentaati polarisasi Berlalu lintas yang baik. Pola tersebut diterapkan disemua aspek yang disebut ‘Rambu Lalu Lintas’ yang memiliki konsep, aturan dan mekanisme dalam berkendara.

Dengan kemajuan tekhnologi , atau yang lebih dikenal dengan era Milenial. Penggunaan kendaraan, Dan lajur kendaraan berkonsep ‘Rambu Lalu lintas’ tersebut secara Masif terus di sosialisasikan oleh Negara secara Umum kepada masyarakat melalui kepolisian Negara Republik Indonesia, Di tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota. Guna mencegah timbulnya kecelakaan yang disebabkan minimnya pengetahuan soal berlalu lintas yang baik.

Lalu bagaimana di Kabupaten Luwu Utara ?
Yah, di Kabupaten Luwu Utara sendiri, konsep berlalu lintas yang baik gencar disosialisasikan Polres Luwu Utara kepada masyarakat, baik itu secara face to face maupun dengan kegiatan sosial kemasyarakatan secara komprehensif.

Misalnya saja, pada tanggal 23 Januari 2019 Lalu, satuan Lalu Lintas Polres Luwu Utara Polda Sulawesi Selatan menggelar kegiatan sosialisasi Millennial Road Safety Festival (MRSF), di sepanjang jalan utama Trans Sulawesi di Kota Masamba.

Kegiatan yang bertujuan memberdayakan generasi milenial dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas itu, digelar satuan Polres Luwu Utara Untuk mewujudkan road safety zero accident. Dimana berdasarkan data, Angka kecelakaan jadi penyumbang kematian yang tinggi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Luwu Utara.

Nah, dalam konteks bernegara, aturan dan Undang Undang. Kegiatan yang dilakukan Polres Luwu Utara dalam mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas itu, tentu saja sah adanya. Sebab kebebasan berkendara dan berlalulintas merupakan roh dari sebuah demokrasi yang harus mentaati aturan, mekanisme Dan Undang Undang yang telah ditetapkan. Sehingga polres Luwu Utara Sebagai penegak hukum memiliki tanggung jawab Untuk menegaskan aturan tersebut. Hanya memang, memelihara polemik berlalu lintas yang baik kepada masyarakat membutuhkan romantisme secara subyektif, Sehingga dibutuhkan kekuatan rasionalitas paradigma.

Karena itu, terlepas dari segala kekurangannya, kita perlu memberi apresiasi kepada Polres Luwu Utara yang terus menunjukkan eksistensinya dalam menghadirkan ‘Public sefety net’ kapada masyarakat melalui berlalu lintas yang baik.

Meskipun di tengah kegiatan tak terlepas menghadirkan sorotan tajam. Bila dipandang dari sisi ‘Public Relations’. Asumsi kita dapat dinyatakan dengan Tegas, Bahwa Polres Luwu Utara menyadari, dengan mengedepankan romantisme masa lalu pada satu sisi kemerdekaan, dan membangun
opini secara subyektif berdasarkan hak asasi manusia terhadap dinamika kemajuan Negara pada sisi yang lain, rasa-rasanya yang dilakukan itu bukanlah sikap yang kontra in-produktif bagi masyarakat, bahkan berpotensi menghadirkan Sosial Ekonomi yang bertumpu dengan dalil , mengabdi untuk Rakyat “Serve for the people”.

Namun, sebagai rakyat yang mencintai negeri sendiri, menghadirkan public sefety net melalui ‘berlalu lintas yang baik’ tidak hanya menjadi tugas kepolisian, akan tetapi di sini pulalah sesungguhnya kita mengambil posisi, membangun jarak yang konstruktif ‘kesadaran’, atau dalam istilah disebut “conscientia”. Demi mewujudkan tujuan bersama.

Kesadaran yang dimaksud tersebut yaitu memahami aturan berlalu lintas yang baik yang tercantum dalam Undang – Undang No. 22 Tahun 2009 mengenai Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yaitu.

1. Lengkapi Surat – Surat Berkendara

Kelengkapan surat – surat terdiri atas Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Kelengkapan surat – surat dalam berkendara tercantum dalam pasal 86 dan 68 UU No. 22 Tahun 2009.

2. Menggunakan Pengaman

Pengaman dalam berkendara (mobil) adalah sabuk pengaman. Aturan ini terdapat dalam pasal 106 (6) UU No. 22 Tahun 2009, dan pelanggarnya akan dikenai pasal 289.

3. Menghormati Pengguna Jalan Lain

Pengguna jalan lain seperti pengendara sepeda motor, sepeda, hingga pejalan kaki. Terdapat dalam pasal 106 (2).

4. Kondisi Kendaraan Layak

Kelayakan kondisi bagian utama kendaraan Anda seperti kaca depan (Mobil) , spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu.

5. Tidak Berpindah Jalur Seenaknya

Berpindah jalur seenaknya itu dilarang, dan apabila dilanggar, akan dikenai sanksi kurungan dan denda. Cara berpindah jalur dengan baik telah diatur dalam aturan berlalu lintas. Dengan begitu resiko dalam berkendara bisa diminimalisir.

6. Mematuhi Rambu – Rambu Lalu Lintas

Rambu lalu lintas memang dibuat untuk kepentingan bersama. Diharapkan memang seluruh pengendara mematuhinya bahkan andaikata tidak seorangpun mengawasinya. Karena meski tidak diawasi, pelanggaran rambu lalu lintas tetap bisa menimbulkan resiko bagi diri sendiri dan orang banyak.

7. Memberi Isyarat Ketika Berbelok, dan sebagainya

Isyarat yang dimaksud adalah menyalakan sen, atau lambaian tangan. Ini penting agar kendaraan di belakang Anda dapat bersiap – siap terlebih dahulu, sehingga kecelakaan dapat dihindari. Apabila dilanggar, Anda akan dikenai pasal 284.

8. Tidak Menggunakan Aksesoris yang Dilarang

Aksesoris yang dilarang seperti lampu strobo atau rotator, angka dan huruf yang dimodifikasi pada plat nomor mobil Anda, hingga knalpot racing.

9. Lampu Terlalu Terang

Lampu yang terlalu terang (High Intensity Discharge) dapat membuat silau bagi kendaraan lainnya, hal ini membahayakan sesama pengguna jalan.

Serta masih Banyak lagi aturan aturan dalam berlalu lintas yang baik.

Terlepas dari semua itu dengan memahami konsep berlalu lintas yang baik, kitapun secara pragmatis Ikut ambil bagian dalam menghadirkan ‘publik sefety net’ untuk negara dan diri kita pribadi.

Bukankah dengan memelihara Kesadaran dalam berlalu lintas bisa membuat kita jauh dari kecelakaan? Sebaliknya, bukankah dengan ketidak fahaman dalam berlalu lintas, sesungguhnya merupakan ruang bagi timbulnya kecelakaan?.

Kesadaran tersebut ibarat konsep bertani ‘Petik, Olah, Jual’. Sederhananya, konsep ini menegaskan pentingnya penataan tiga mata rantai (petik, olah, jual) dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Sebagai illustrasi, kita boleh mengajukan pertanyaan seperti ini “Apa bedanya bertani dan berlalu lintas yang baik? “

Ya,.. bedanya adalah, kalau bertani harga ditentukan oleh Si pembeli dan penjual dengan Posisi tawar menawar. Sementara berlalu lintas
ditentukan oleh diri kita sendiri tanpa posisi tawar. Sebuah perbandingan terbalik kan? Mengapa?, Karena dalam hal bertani terdapat aspek kesepakatan Untung rugi, sementara dalam hal berlalu lintas hanya terdapat rugi yang tidak bisa dikompromi.

Analogi sederhana ini bermaksud menegaskan pentingnya aspek kesadaran kita dalam berlalu lintas, Karena itu kalau kita ingin selamat dalam berkendara, maka kesadaran dalam berlalu lintas menjadi hal utama dalam berkendara. Karena begitulah sejatinya seharusnya kita merespon soal ‘Lalu lintas’. Ada saat kita bertarung habis-habisan untuk memenangkan ego, namun sebaliknya, ada saatnya kita jedah urung rembuk dalam menghasilkan ‘Sosial Safety Net’ bagi diri dan orang lain.

Penulis: Hamsul

Baca Juga: