AS Setuju Danai WHO Lagi, tapi Jumlahnya Sama dengan China

WASHINGTON, NKRIKU – Pemerintahan Donald Trump akan kembali mendanai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meskipun tak penuh.

Dalam rancangan surat sebagaimana dirilis Fox News disebutkan, AS setuju membayar kontribusi kepada WHO seperti dikeluarkan China.

Trump menangguhkan pendanaan bagi WHO pada 14 April karena menuduh organisasi itu terlalu membela China soal wabah virus corona. AS merupakan penyumbang terbesar bagi organisasi yang dipimpin Tedros Adhanom Ghebreyesus tersebut.

Pejabat WHO menepis tuduhan tersebut, sementara China bersikeras sudah transparan dan terbuka soal data Covid-19.

Berita Populer  Kemenparekraf Pastikan Nakes Dapat Akomodasi Terbaik

Sementara itu, jika AS memutuskan memberikan dana dengan jumlah yang sama dengan China, berarti hanya seper sepuluh dari sumbangan tahunan negara itu.

Pada 2019, AS menyumbang 400 juta dolar atau sekitar Rp6,2 triliun.

Sebelumnya para politisi Partai Republik di Kongres juga mendukung kebijakan Trump menghentikan pendanaan. Mereka mendesak Trump menahan dana bagi WHO sampai Tedros mengundurkan diri.

Berita Populer  Jokowi Soroti Peringatan FAO soal Risiko Krisis Pangan

Tedros dianggap terlalu mendukung dan menutupi kesalahan China dalam penanganan wabah virus crona. Sebanyak 17 anggota Kongres Partai Republik dari Komisi Dewan Luar Negeri mengaku kehilangan kepercayaan terhadap Tedros karena terlalu percaya kepada China dan mengabaikan peringatan dari Taiwan tentang mudahnya virus ini menular.

Tedros dituding menunda penetapan deklarasi darurat kesehatan meskipun ada bukti jelas bahwa virus bisa menyebar cepat dari manusia ke manusia. WHO mendeklarasikan pandemi global Covid-19 pada 11 Maret 2020, setelah virus menjangkiti 114 negara dan merenggut 4.500 nyawa.

Berita Populer  Anggaran Cetak Sawah Kementan Turun Drastis, DPR: Kebijakan Jokowi Tak Nyambung

Meski demikian, para anggota Kongres tetap memberikan kepercayaan yang tinggi terhadap WHO serta memahami dan menghargai peran vital organisasi tersebut di seluruh dunia, terutama dalam situasi kemanusiaan yang akut.

Mereka juga mencatat WHO merupakan satu-satunya organisasi yang bekerja langsung di tempat-tempat terparah di dunia, sehingga AS harus terus mendukung tugas mulia tersebut.

Editor : Anton Suhartono

(Visited 5 times, 1 visits today)

Berita Terbaru