Bertahan di Masa Pandemi Covid-19, Industri Asuransi Diminta Lakukan Ini

NKRIKU Berdasarkan data Global Makro Outlook dari Insurance Information Institute, pandemi Covid-19 berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan industri asuransi yang diprediksi dapat melewati semester II tahun 2020.

Dengan demikian, diperlukan penyesuaian strategi bisnis dari para pelaku usaha untuk tetap dapat bertahan di tengah kondisi saat ini.

Saat ini, dalam rangka mendukung kegiatan berusaha, pemanfaatan teknologi informasi (TI) secara optimal menjadi sangat penting.

baca juga:

“Dengan pemanfaatan TI secara optimal, pelaku usaha dapat menjalankan operasi bisnisnya secara lebih efektif dan efisien. Selain itu, penggunaan TI juga memungkinkan pelaku usaha untuk tetap dapat berinteraksi secara langsung dengan konsumen, di tengah pembatasan interaksi sosial antar individu,” ungkap Riswinandi, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank Merangkap Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Adaptasi TI merupakan faktor penting untuk dapat bertahan dalam kondisi pandemi serta mengatisipasi trend perilaku konsumen yang berubah di masa yang akan datang. Mendukung kegiatan berbasis teknologi informasi, saat ini OJK tengah mempersiapkan dan merampungkan RP OJK terkait manajemen risiko teknologi informasi tersebut.

Sebagai regulator, OJK mengklaim senantiasa mendorong industri asuransi untuk terus beradaptasi dengan perubahan ekosistem jasa keuangan, termasuk juga dengan inovasi pemasaran jasa keuangan. Namun, inovasi yang dilakukan harus tetap berpedoman pada prinsip kehati-hatian.

Sejalan dengan Riswinandi, Pakar Pemasaran Yuswohady mengatakan bahwa perubahan perilaku konsumen dalam masa dan pasca pandemi dapat memberikan dampak serta peluang untuk industri asuransi. Di mana, kecenderungan perilaku konsumen saat ini adalah kembali ke dasar, yakni lebih memprioritaskan kebutuhan, sandang, pangan, dan papan.

Hal ini terjadi karena adanya ketakutan orang karena ketidakpastian ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.

Ketakutan itu mengakibatkan orang-orang lebih memilih menyimpan uangnya di bank dan mengurangi pembelian.

Berita Terbaru