by

DUH! Dinafkahi Rp70 Juta Tiap Bulan, Istri Tetap Selingkuh Dengan Brondong Pengangguran

Pasang

NKRIku.com – Sidang lanjutan terkait istri sah korban bernama Santi Ramadan Lumbantoruan alias Dhani Edward (42) telah berselingkuh (poliandri) dengan seorang model, Iwan Setiadi (32) di Ruang Cakra VI Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (15/5/2022).

Sidang itu dipimpin Hakim Ketua, Ulina Marbun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan menghadirkan saksi korban, Sabar Menanti Sitompul (64) bersama tiga saksi lain.

Dalam keterangannya, Sabar mengakui telah menikah dengan terdakwa Santi Ramadan secara sah dan tercatat di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) tahun 2006. Awalnya, Santi mengaku perawan dan belum punya suami.

Setelah perkawinan berjalan 3 tahun dan telah dikaruniai anak, Sabar baru mengetahui bahwa Santi sudah punya suami dan dua anak. “Saya kecewa merasa dibohongi pak hakim,” ujar Sabar yang berprofesi sebagai pengusaha konstruksi di Medan ini.

Tidak cuma itu, lanjut Sabar, tindakan Santi telah mencemarkan nama baiknya di keluarga. “Dia (Santi) sering bawa pria lain dan tidak mau dilarang. Setiap bulannya, saya beri nafkah sebesar Rp 65-70 juta kepada dia,” pungkas Sabar.

Merasa terus disakiti, akhirnya Sabar mengadukan Santi dan Iwan ke polisi dengan tuduhan memalsukan surat agar bisa kawin lagi.

Dalam dakwaan JPU Randi Tambunan, bahwa antara terdakwa Santi Rahmadani Lumbantoruan alias Dhani Edward dengan saksi korban, Sabar Menanti Sitompul (duda dua anak) terikat hubungan perkawinan sejak tanggal 11 April 2006 dengan Akta Perkawinan Nomor: 1403 T/MDN/2012 tanggal 15 Agustus 2012.

Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki 1 anak laki-laki dan tinggal bersama di rumah yang terletak di Perumahan Pondok Surya Helvetia. “Pada tahun 2008, setelah menikah dengan Santi, korban mengetahui bahwa Santi telah memiliki 2 anak sebelum menikah dengannya,” ujar JPU.

Pada tahun 2009, Santi menjalin hubungan dekat dengan laki-laki lain yaitu terdakwa Iwan Setiadi. Sehingga hubungan Santi dengan korban tidak harmonis. Saat menjalin hubungan dengan Iwan, Santi mengurus KTP di Disdukcapil Bojong Gede dengan NIK 3201135706871001 atas nama Dhani.

Selanjutnya, Iwan datang ke Kantor KUA Kecamatan Rambutan untuk mengurus Surat Rekomendasi Nikah dengan persyaratan yaitu N1 (Pengantar Nikah) dari Kelurahan Mekar Sentosa, Kartu Keluarga (KK) dan KTP atas nama Iwan Setiadi selaku pemohon. Sedangkan untuk Santi hanya keterangan lisan dari Iwan yang akan dibubuhkan pada surat permohonan.

“Kemudian, KUA Kecamatan Rambutan menerbitkan Surat Rekomendasi Nikah Nomor: Kk.02.14.3/Pw.01/255/X/2015 dengan status Iwan Setiadi JEJAKA dan Santi statusnya PERAWAN. Data-data di Surat Rekomendasi Nikah Nomor: Kk.02.14.3/Pw.01/255/X/2015 tersebut diterbitkan dan akan digunakan untuk menikah antara Santi dengan Iwan di luar Kecamatan Rambutan,” jelas Randi.

Pada 7 Nopember 2015, Santi menikah dengan Iwan di KUA Bojong Gede dengan Surat Rekomendasi Nikah Nomor: Kk.02.14.3/Pw.01/255/X/2015. Santi sendiri tidak merasa keberatan dengan status PERAWAN. Padahal, Santi mengetahui bahwa perkawinannya dengan korban menjadi halangan yang sah baginya akan kawin lagi.

Mereka juga telah membuat KK Nomor 320113270516002 dan bertempat tinggal di Griya Waringin Elok Blok C 18 Rt 006 Rw 008 Desa Waringin Jaya Kecamatan Bojong Gede. Selanjutnya, Santi menggunakan Akta Nikah Nomor: 1546/035/XI/2015 tanggal 7 Nopember 2015 untuk tinggal bersama Iwan di Perumahan Jalan Karya Jaya Indah Blok C 13 dan Apartement Sky View Jalan Setia Budi.

“Pada Januari 2022, korban mendapatkan informasi bahwa Santi sudah kawin lagi dengan Iwan sesuai Akta Nikah Nomor: 1546/035/XI/2015 tanggal 7 Nopember 2015 yang diterbitkan KUA Bojong Gede tanpa sepengetahuan dan izin dari Sabar Menanti Sitompul,” cetus JPU.

Selama menikah, Santi selalu diberikan nafkah oleh korban yang dikirim melalui rekening dan juga tunai sesuai dengan kebutuhan yang Santi minta atau yang diperlukan. Atas perbuatan kedua terdakwa, korban merasa keberatan, dirugikan dan dipermalukan di depan keluarga.

Padahal setiap bulan, korban mengalami kerugian kurang lebih Rp 65.000.000. Karena hal itu, korban melaporkan perbuatan kedua terdakwa ke Polda Sumut.

“Perbuatan kedua terdakwa diancam pidana melanggar Pasal 279 ayat (1) atau Pasal 266 ayat (1), ayat (2) atau Pasal 263 ayat (2) ke-1 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP,” pungkas Randi. (***)

Artikel ini telah tayang di garudaonline.co.id dengan judul Diberi Nafkah Rp70 Juta Tiap Bulan, Istri Sah Tetap Selingkuh