Dyah Roro Esti Minta Pemerintah Sesuaikan Harga BBM Dengan Harga Minyak Dunia

Di tengah pandemik Covid-19 seperti saat ini, turunnya harga BBM dinilai sangat membantu masyarakat, terutama yang mereka yang terdampak.

Demikian disampaikan anggota Komisi VII DPR RI Fraksi Golkar Dyah Roro Esti dalam rapat kerja (Raker) antara Komisi VII dan Menteri ESDM Arifin Tasrif, Senin (4/5).

“Pertamax dan pertalite mekanisme pasar review 3 bulan, rakyat diuntungkan, minyak dunia turun akan meyesuaikan. Pelajari bersama dan sesuaiakan,” ujar Dyah Roro Esti.

Berita Populer  Dirjen Imigrasi Akan Dalami Proses Pembuatan Paspor Buronan Kakap Kejagung Djoko Tjandra

Politikus muda Partai Golkar ini menyatakan, pemerintah mesti mempebaiki mekanisme subsidi pada harga BBM untuk tiga sampai enam bulan di tengah anjloknya harga minyak mentah dunia yang masih terus melemah di bawah level 30 dolar Amerika Serikat (AS) per barel.

“Kita perlu perbaiki mekanisme subsidi 3-6 bulan seperti dulu dilakukan supaya tidak terjebak market ekonomi,” demikian Dyah Esti.

Sementara itu, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyatakan, pemerintah belum bisa menurunkan harga BBM di bulan ini, meskipun harga minyak mentah dunia di bawah level 30 dolar AS per barel.

Berita Populer  Keterpaparan Covid-19 Masih Tinggi, Guru Besar Komunikasi UI: Ada Yang Dilematis Untuk Membuka Informasi Pasien Terinfeksi

“Pemerintah tetap mempertahankan kebijakan Jenis BBM Tertentu (JBT) atau BBM bersubsidi dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP),” kata Arifin Tasrif.

Hal ini lantaran pemerintah masih akan memantau kondisi harga minyak mentah dunia seiring stabilnya nilai tukar rupiah.

Kemudian, pemerintah juga masih harus memastikan dan menyesuaikan kesepakatan harga minyak dunia mengikuti negara-negara OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi) dan non-OPEC pada bulan ini.

Berita Populer  Pengacara: Bukan Covid-19 Yang Membunuh Floyd, Tapi Rasisme Dan Diskriminasi

“Pemerintah terus memantau perkembangan harga minyak mentah dunia yang masih belum stabil, yang memiliki volatilitas yang tinggi. Diperkirakan harga akan rebound ke level 40 dolar AS per barel di akhir tahun, waktu cukup lama makanya kami masih cermati perkembangan terutama di bulan Mei dan Juni,” demikian Arifin Tasrif.

Berita Terbaru