Ekonom Beberkan Alasan Insentif PPnBM hingga DP Rp0 Mobil dan KPR Tak Akan Efektif

NKRIKU Institute for Development od Economics and Finance (Indef) menilai insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) dan uang muka KPR 0 persen dinilai tak terlalu efektif.

Peneliti Indef, Riza Annisa Pujarama mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait insentif tersebut. Pertama, daya beli masyarakat dinilai masih belum pulih, sehingga insentif tersebut kemungkinan tak akan terlalu mendorong masyarakat membeli mobil atau rumah melalui KPR.

Mengutip Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Januari 2021, Riza mengatakan terlihat bahwa masyarakat menahan konsumsi atas barang sekunder dan tertier.

baca juga:

Selain itu, penghasilan terus menurun. Ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Januari 2021 sebesar 84,9, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 96,5.

Penurunan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi pada enam bulan yang akan datang tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tercatat turun menjadi 106,7, dari bulan sebelumnya 124,3.

Perkembangan tersebut disebabkan oleh perkiraan terhadap ekspansi kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, dan penghasilan ke depan yang tidak sekuat pada bulan sebelumnya.

“Sementara penggunaan pendapatan rumah tangga di Januari atas tabungan menurun, sementara konsumsi dan cicilan pinjaman meningkat, artinya saat ini masayrakat lebih condong berusaha membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Untuk itu, ia mengatakan, kedua insentif tersebut dinilai bakal tak efektif. Sebab, pendapatan yang menurun serta kemampuan membayar cicilan jika mengkredit masih lemah sehingga mempengaruhi preferensi masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Ekonomi Senior Aviliani mengungkapkan hal serupa. Ia menerangkan, peminat KPR sebenarnya adalah milenial yang merupakan pekerja informal yang bakal mengincar rumah pertama.

Berita Terbaru