Ekonom: Tiga Permasalahan Buat Konsumsi Rumah Tangga Belum Juga Pulih

NKRIKU Ekonom Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendri Saparini menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi rumah tangga masih lambat dan jauh di bawah kondisi sebelum pandemi Covid-19. Kondisi tersebut diakibatkan oleh adanya peningkatan mobilitas belum sepenuhnya yang berdampak pada peningkatan konsumsi.

“Yang penting bagi kita adalah ada spending atau tidak. Kalau tidak ada spending maka tidak akan bisa pulih. Nah spending juga akan tergantung kepada bagaimana kita mengelola pandemi Covid-19, ini kita tunjukan karena sebenarnya mobilitas orang itu sudah terjadi, tetapi mobilitas tersebut tidak sama dengan konsumsi,” ucapnya dalam webinar dengan tema ‘AKURAT IDEA – WEBINAR “MENAKAR EFEKTIVITAS STIMULUS EKONOMI DALAM MENGUNGKIT PEREKONOMIAN DI MASA PANDEMI di Jakarta, Selasa (4/4/2021).

Berita Populer  Terpengaruh Pandemi Covid-19, Tahapan Pilkada Tunggu Penjelasan BNPB

Menurutnya berdasarkan data, normalnya konsumsi rumah tangga tanah air itu tumbuh 5%. “Memang kemudian pada tahun lalu itu konsumsi rumah tangga kita sudah negatif 3,6%, ” ujarnya.

Di sisi lain, indeks penjualan riil juga masih tajam negatifnya. Artinya konsumsi rumah tangga ini belum mendorong pada penjualan ritel atau produk-produk yang diminati oleh masyarakat.

Berita Populer  UI Kukuhkan Kampus Terbaik di Dalam Negeri lewat Pemeringkatan Ini

Hal itu disebabkan karena struktur daripada konsumsi, mengingat bahwa 20% pendapatan paling tinggi, 40% menengah dan 40% paling bawah.

” Kita tahu bahwa 20% paling atas dan 40% menengah itu porsi konsumsinya 82%. Padahal kelas menengah dan atas dinilai belum akan spending, sebab mereka akan masih tetap bertahan dalam kondisi seperti ini karena bagi mereka kesehatan nomor satu. Jadi jika bertanya mengapa konsumsi rumah tangga ini belum balik dengan cepat, karena kelas menengah-atas ini adalah penentu konsumsi rumah tangga kita yakni berkontribusi sebesar 82% dari konsumsi rumah tangga,” ucapnya.

Berita Populer  Airlangga Hartarto Jamin Tidak Ada Kapasitas Kesehatan yang Terbatas

Sementara 40% untuk kelas bawah sangat bergantung kepada bantuan sosial. Sekitar 27 juta keluarga mendapatkan bantuan sosial, sedangkan yang mendapatkan sembako saja sekitar 18,5 juta keluarga.

” Ini artinya memang kelompok 40% kebawah ini masih sangat bergantung kepada berbagai program bansos yang dikeluarkan oleh pemerintah,” imbuhnya.

Selanjutnya permasalahan yang ketiga menngapa konsusmsi belum mampu berlari, karena ada 2,9 juta pekerja yang kehilangan pekerjaannya pada masa pandemi Covid-19. Terlebih mereka belum mendapatkan lapangan pekerjaan baru.

Berita Terbaru