Harga Minyak Tertekan Kenaikan Corona di China


Jakarta, NKRIKU Indonesia —

Harga minyak mentah dunia jatuh pada perdagangan Jumat (23/1) akibat terseret peningkatan persediaan di Amerika Serikat (AS). Itu juga dipicu kekhawatiran pasar atas pembatasan kegiatan yang dilakukan China demi menekan penyebaran virus corona.

Mengutip Antara Senin (25/1), minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret merosot 69 sen atau 1,23 persen menjadi US$55,41 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret turun 86 sen atau 1,62 persen menjadi US$52,27 per barel.

Berita Populer  Anak-anak Jadi Korban Meninggal karena Corona di Inggris

Sepanjang pekan lalu, patokan minyak mentah AS turun sebesar 0,3 persen sementara Brent naik 0,6 persen, berdasarkan kontrak bulan depan.

Penurunan harga disebabkan lonjakan persediaan minyak mentah AS hingga 4,4 juta barel dalam seminggu terakhir. Itu melebihi ekspektasi pasar yang hanya 1,2 juta barel.

Perusahaan jasa energi Baker Hughes mencatat banyak korporasi energi AS pekan lalu menambahkan rig minyak dan gas alam selama sembilan minggu berturut-turut di tengah kenaikan harga selama beberapa bulan terakhir. Meski demikian, jumlah keseluruhan pasokan masih 52 persen di bawah periode sama tahun lalu.

Berita Populer  Facebook: Butuh Waktu Lama Buat Hapus Video Hoax Terkait Virus Corona!

Di sisi lain, optimisme pemulihan permintaan bahan bakar di China memudar karena gelombang baru kasus covid-19 kembali memicu pembatasan sosial di negeri tersebut.

[Gambas:Video NKRIKU]

“Pandemi tampaknya terus meluas ke gelombang kedua di China, dengan peningkatan infeksi dari hari ke hari dan mencapai daerah-daerah yang berbeda seperti Shanghai,” kata analis pasar minyak Rystad Energy, Louise Dickson.

Berita Populer  Pecah Rekor, Total Kasus Positif Corona 534.266

Sementara itu analis energi dari Commerzbank Research Eugen Weinberg mengatakan kekhawatiran tentang turunnya permintaan telah kembali menjadi fokus di pasar minyak global.

“Tingginya angka kasus baru corona, lambatnya kemajuan vaksinasi dalam beberapa kasus dan pembatasan mobilitas yang lebih ketat dan lebih lama di Eropa membebani sentimen investor,” katanya.

(agt/agt)

Berita Terbaru