by

IBU-IBU WAJIB TAHU! Suami Istri Bersentuhan Bisa Batalkan Wudhu atau Tidak? Ini Kata Buya Yahya

Pasang

NKRIku.com – Pernikahan membuat sesuatu yang awalnya haram bagi laki-laki dan perempuan menjadi halal.

Contohnya saja berduaan di tempat sepi, bersentuhan dan juga beberapa contoh lainnya.

Sementara itu, wudhu bisa batal jika menyentuh atau bersentuhan dengan orang yang bukan muhrim.

Lantas, bagaimana jika suami istri bersentuhan setelah wudhu, apakah itu bisa membatalkan wudhu?

Dilansir PortalJember.com dari sebuah video di kanal Youtube Al-Bahjah TV pada 23 AGustus 2017, begini penjelasan dari Buya Yahya.

Menurut Buya Yahya perlu diketahui dahulu suami atau istri ini orang mana? Apakah pernah pergi belajar ke luar negeri seperti Maroko?

Hal ini dikarenakan berkaitan dengan madzhab yang digunakan hingga pada kasus ini hukumnya bisa berbeda.

Lantas, bagaimana jika suami istri bersentuhan setelah wudhu, apakah itu bisa membatalkan wudhu?

Dilansir PortalJember.com dari sebuah video di kanal Youtube Al-Bahjah TV pada 23 AGustus 2017, begini penjelasan dari Buya Yahya.

Menurut Buya Yahya perlu diketahui dahulu suami atau istri ini orang mana? Apakah pernah pergi belajar ke luar negeri seperti Maroko?

Hal ini dikarenakan berkaitan dengan madzhab yang digunakan hingga pada kasus ini hukumnya bisa berbeda.

Namun, rata-rata orang Indonesia itu menganut madzhab Syafi’i, kecuali yang pernah belajar di luar negeri, seperti Maroko.

“Madzhab Syafi’i adalah bersentuhan laki dengan perempuan adalah batal. Suami istri juga batal,” kata Buya Yahya.

Kecuali jika seseorang diajari oleh orang lain mengenai madzhab yang berbeda.

Contohnya ada seseorang yang diajari orang lain yang pernah belajar di India atau Maroko hingga menganut madzhab Hanafi atau Maliki, maka boleh atau tidak batal wudhunya karena ada sandaran ilmunya.

Permasalahannya adalah jika seseorang mengatakan suami istri bersentuhan tidak batal karena ikut seseorang yang bukan ulama dan tidak pernah belajar agama di luar negeri.

“Kecuali istri tersebut berkata: Aku ikut seorang ustadz yang madzhab Malik karena abah saya pernah belajar di Maroko dan mengajarkan madzhab Malik,” kata Buya Yahya.

Jadi, yang dipermasalahkan disini adalah siapa yang diikuti oleh orang tersebut.

Tidak boleh mengikuti seseorang yang secara keilmuan tidak jelas atau seseorang yang mengatakan tidak mengikuti empat madzhab, tapi mengikuti Rasulullah.

Hal ini dikarenakan empat madzhab tersebut juga mengikuti Rasulullah, namun berbeda cara pemahamannya.

Jadi, jika mengikuti madzhab Syafi’i sebagaimana kebanyakan orang Indonesia, maka bersentuhan suami istri tetap membatalkan wudhu.***

Artikel ini telah tayang di portaljember.pikiran-rakyat.com dengan judul Suami Istri Bersentuhan Bisa Membatalkan Wudhu atau Tidak? Begini Penjelasan Buya Yahya