Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Rupiah Menanjak ke Rp14.059


Jakarta, NKRIKU Indonesia —

Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.059 per dolar AS pada perdagangan pasar spot pada Kamis (14/1) sore. Posisi ini menguat 1 poin atau 0,01 persen dari Rp14.060 persen pada Rabu (13/1).

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.119 per dolar AS atau melemah dari Rp14.109 per dolar AS pada Rabu kemarin.

Rupiah menguat dengan mayoritas mata uang Asia. Hanya won Korea Selatan yang melemah 0,26 persen dan yen Jepang minus 0,11 persen dari dolar AS.

Berita Populer  Rupiah Loyo ke Rp14.160 usai BI Tekan Suku Bunga Acuan

Sedangkan rupee India menguat 0,19 persen, baht Thailand 0,1 persen, dolar Singapura 0,07 persen, yuan China 0,03 persen, dan dolar Hong Kong 0,01 persen.

Sisanya, stagnan dari mata uang negeri Paman Sam, yaitu peso Filipina dan ringgit Malaysia.

Begitu pula dengan euro Eropa yang stagnan dari dolar AS. Namun, mayoritas mata uang utama negara maju lainnya bersandar di zona hijau.

Berita Populer  BI Buka Layanan Penukaran Uang Rusak Mulai Besok

Rubel Rusia menguat 0,58 persen, dolar Australia 0,33 persen, dolar Kanada 0,17 persen, poundsterling Inggris 0,14 persen, dan franc Swiss 0,12 persen.

Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong melihat pelemahan rupiah pada awal perdagangan hari ini tertahan oleh sentimen merosotnya dolar AS. Hal ini disebabkan oleh tingkat imbal hasil (yield) surat utang AS, US Tresury yang kembali turun.

“Hal yang sama menjadi sentimen ke mata uang lain,” ucap Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Berita Populer  Kegagalan AS Redam Corona Bikin Rupiah Terangkat ke Rp14.505

Selain itu, rupiah juga masih punya sedikit penguatan dari program vaksinasi covid-19. Program dimulai dengan penyuntikan vaksin ke Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu kemarin.

[Gambas:Video NKRIKU]

Di sisi lain, ia melihat pergerakan rupiah hari ini hanya berdasarkan kondisi teknikal. Sebab, sudah menguat pada beberapa hari kemarin.

“Ini mengikuti juga pergerakan IHSG yang cenderung datar. Pasar cenderung wait and see, terutama mengamati perkembangan di AS menjelang inagurasi Biden,” pungkasnya.

(uli/sfr)

Berita Terbaru