Indonesia Jadi Arena Pertarungan Raksasa Teknologi China Dan AS

Pasar Indonesia yang berkembang pesat menjadi peluang besar bagi raksasa teknologi kedua negara itu untuk ikut berinvestasi pada Unicorn lokal.

“Indonesia, secara khusus, adalah populasi internet terbesar keempat di dunia, memiliki banyak perusahaan rintisan teknologi yang menarik,” ucap wakil presiden Lightspeed Venture Partners di Singapura, Pinn Lawjindakul kepada South China Morning Post pada Senin (30/11).

Berita Populer  Era New Normal Tiba, Investasi Asing Jadi Motor Pertumbuhan

Lawjindakul menjelaskan, pentingnya Indonesia bagi pasar internet global membuat banyak perusahaan teknologi internasional berinvestasi.

“Ini adalah waktu yang sangat menyenangkan bagi para pendiri dan investor di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan,” lanjut dia.

Data dari Bank Dunia menunjukkan, jumlah penduduk Indonesia yang memiliki akses internet terus meroket setiap tahunnya.

Pada 2017 dan 2018, sebanyak 32,2 persen dan 39,9 persen dari total populasi Indonesia memiliki akses internet. Sementara pada 2019 melonjak hingga 47,7 persen.

Berita Populer  Terobosan LPI (1)

Perusahaan teknologi AS seperti Uber sudah menjual semua asetnya di Asia Tenggara kepada Grab pada 2018. Sebagai gantinya, Uber mendapat 27,5% saham di perusahaan tersebut.

Baru-baru ini, 3 November, Microsoft mengumumkan “kemitraan strategis” dengan platform e-commerce Bukalapak  dalam membangun infrastruktur cloud untuk mendukung layanan Bukalapak untuk lebih dari 12 juta UMKM dan 100 juta pelanggan.

Berita Populer  Kolaborasi Dengan ITS, Protelindo Berbagi Donasikan Robot RAISA

Google juga bekerja sama dengan Temasek Singapura untuk berinvestasi di rival utama Bukalapak, Tokopedia.

Grup Softbank Jepang adalah pemegang terbesar di Tokopedia, yaitu 33,9 persen saham di perusahaan. Sementara Grup Alibaba China memegang 28,3 persen saham.

Berita Terbaru