Iran Waswas, ‘Gelombang Ketiga’ Pandemik Covid-19 Mengintai

Sebagian besar dari 32 provinsi di negara tersebut saat ini diklasifikasikan sebagai daerah “merah”, yang merupakan skala kode warna yang menunjukkan tingkat keparahan pandemik Covid-19.

Ibukota Teheran menjadi daerah yang paling parah terdampak oleh pandemik Covid-19.

Penghitungan resmi dari pemerintah Iran menunjukkan bahwa ada 195 kematian baru pada akhir pekan kemarin (Minggu, 27/9) akibat Covid-19. Dengan demikian, total ada 25.589 orang di negara tersebut yang tutup usia akibat Covid-19.

Juru bicara kementerian kesehatan Sima Sadat Lari akhir pekan kemarin juga mengumumkan selama briefing Covid-19 harian bahwa ada penambahan 3.362 kasus infeksi Covid-19 kemarin. Dengan demikian, total ada 446.448 orang yang dinyatakan positif Covid-19 di Iran.

Dalam sepekan terakhir, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Hassan Rouhani telah mengeluarkan peringatan langsung kepada warga agar lebih mematuhi pedoman kesehatan masyarakat.

Berita Populer  Gereja Ortodoks Di Prancis Diserang, Seorang Pendeta Ditembak Dua Kali

“Jangan meremehkan corona,” kata Khamenei dalam pidato langsung di televisi pekan lalu.

“Solusinya ada di tangan kita sendiri,” sambungnya, seraya mengimbau agar masyarakat mengikuti pedoman kesehatan masyarakat, termasuk menjaga jarak sosial, menggunakan masker dan mencuci tangan secara teratur.

Pernyataan Khamenei muncul tidak lama setelah Rouhani mengeluarkan peringatan serupa. Dia menyebut bahwa meningkatnya kasus Covid-19 karena banyak warga yang masih bandel dalam mengikuti pedoman kesehatan.

“Kami perlu berasumsi bahwa ini akan berlangsung sepanjang tahun, dan bahkan tahun depan kami mungkin harus mematuhi semua pedoman kesehatan masyarakat ini,” kata Rouhani dalam pertemuan satuan tugas virus corona nasional yang disiarkan televisi pekan lalu.

“Bahkan jika kita memiliki akses ke vaksin, saya yakin kita perlu mempertahankan gaya hidup ini,” sambungnya.

Iran tidak tinggal diam dalam menghadpai lonjakan kasus Covid-19 baru-baru ini. Menurut sejumlah pejabat, seperti dikabarkan Al Jazeera pada Senin (28/9), Iran telah bergabung dengan COVAX, yakni sebuah inisiatif global yang bertujuan untuk bekerja sama dengan produsen vaksin guna memberi negara akses yang setara ke vaksin yang aman dan efektif setelah dilisensikan dan disetujui.

Berita Populer  Perda Covid-19 Resmi Berlaku, Tolak Divaksin Didenda Rp 5 Juta

Iran juga telah berkomitmen akan membeli 20 juta dosis vaksin yang dibuat oleh perusahaan India yang tidak disebutkan namanya, yang dijalankan oleh seorang pria kelahiran Iran.

Perlu diketahui bahwa Iran mengkonfirmasi kasus pertama Covid-19 pada 19 Februari lalu dengan mengumumkan dua orang tewas di kota suci Syiah Qom di selatan Teheran akibat virus tersebut. Sejak saat itu, jumlah kasus infeksi Covid-19 pun meningkat secara signifikan.

Dalam menangani pandemik yang terjadi, Iran menerapkan langkah-langkah karantina di beberapa bagian negara pada bulan Maret dan April lalu.

Berita Populer  Joe Biden Siap Setop Modernisasi Nuklir Trump, Rusia Lega?

Meski begitu, langkah tersebut tidak serta merta membuat penularan Covid-19 menjadi terkendali di Iran. Negara itu justru mengalami gelombang besar infeksi pada pertengahan musim panas lalu. Namun di sisi lain, rawat inap, dan jumlah kematian menurun dalam beberapa pekan terakhir.

Seperti yang juga dilaporkan di negara lain, penularan virus corona kerap berkebang dan mengubah pola infeksi serta demografi. Menurut Wakil Menteri Kesehatan Iran Iraj Harirchi, virus itu sekarang berkembang menjadi lebih kuat.

“Pada gelombang pertama dan kedua (Covid-19), orang yang tertular virus akan sering tertular di masyarakat dan bukan di keluarga,” katanya saat wawancara langsung di televisi pekan lalu.

“Tapi sekarang (“gelombang ketiga”) di banyak keluarga di mana satu orang tertular virus, seluruh keluarga terinfeksi,” sambungnya.

Berita Terbaru