Jumhur Hidayat Ditahan, Buku Surat-Surat dari Penjara Viral di Medsos

NKRIKU.COM – Petinggi KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia)
ditangkap dan ditahan oleh Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim
Polri, yakni Jumhur Hidayat, Anton Permana dan Syahganda Nainggolan.

 

Syahganda yang merupakan Sekretaris Komite Eksekutif KAMI
ditangkap di Depok pada Selasa, 13 Oktober 2020. Kemudian, Anton selaku
Deklarator KAMI ditangkap di Rawamangun dan Jumhur ditangkap di Jakarta
Selatan.

 

Mereka ditangkap karena dituduh menyebarkan informasi hoax
dan berbau SARA terkait penolakan pengesahan Undang-undang Cipta Kerja, yang
berakhir ricuh di sejumlah daerah pada Kamis, 8 Oktober 2020.

 

Namun, dukungan bebaskan Syahganda dan Jumhur terus
digaungkan. Bahkan, buku karya Jumhur tentang ‘Surat-surat dari Penjara’
menjadi viral di media sosial Twitter pada Minggu, 18 Oktober 2020. Buku
tersebut diunggah oleh akun Don Adam @DonAdam68.

 

“Semoga Jumhur dan Syahganda bisa tabah dan terus
berfikir merdeka!,” tulisnya dikutip pada Minggu, 18 Oktober 2020.

 

Mengutip dari situs opac.perpusnas.go.id, buku ‘Surat-surat
dari Penjara’ ditulis oleh M Jumhur Hidayat dengan deskripsi fiksi xxi, 199
halaman yang diterbitkan oleh Bende Press, 2001. Buku tersebut menggunakan
Bahasa Indonesia, dan bukan fiksi.

 

Diketahui, sejumlah anggota hingga pentolan KAMI diamankan
Polri terkait kerusuhan unjuk rasa tolak UU Cipta Kerja di Jakarta dan Medan,
Sumatera Utara. Di antaranya Khairi Amri, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat
(JH), Anton Permana (AP), Juliana (JG), Novita Zahara (NZ), Wahyu Rasasi Putri
(WRP), Kingkin Anida (KA) dan Deddy Wahyudi.

 

Atas perbuatannya, Jumhur Hidayat dan Anton Permana dijerat
Pasal 28 Ayat (2), Pasal 45a Ayat (2) UU ITE dan Pasal 14 Ayat (1) dan Ayat (2)
dan Pasal 15 UU Nomor 1 tahun 1946 dan Pasal 207 KUHP dengan ancamannya 10
tahun.

 

Sementara, Syahganda Nainggolan dijerat Pasal 14 Ayat (1)
dan Ayat (2) dan/atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP dan/atau
Pasal 45a Ayat (2) juncto Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang UU
ITE.

 

Sejumlah tokoh pun menyoroti perlakuan Polri yang memborgol
tangan aktivis KAMI yang ditangkap, yakni Syahganda, Jumhur dan Anton Permana.
Salah satunya, mantan Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli yang
menyindir aparat penegak hukum bertindak norak lantaran memborgol tangan
aktivis.

 

“Ketika pemerintahan Gus Dur, Menko RR dan Menko
@SBYudhoyono memisahkan Polri dari TNI, kami membayangkan Polri akan dicintai
karena jadi pengayom rakyat. Hari-hari ini kami tidak menyangka Polri jadi
multi-fungsi. Too much, pakai borgol-borgol aktivis segala. Nora ah,” kata
Rizal Ramli dikutip dari Twitternya.

loading…

Berita Terbaru