Karya Paus Sastra Lampung Masuk Lima Besar Buku Sastra Tahun 2020

“Sebetulnya sudah masuk lima besar ini, saya sudah tak punya ambisi lagi untuk menjadi nomor satu. Saya serahkan pada takdir terhadap nasib buku saya tersebut,” kata Isbedy Stiawan, seperti dilansir Kantor Berita RMOL Lampung, Selasa (12/1).

Penyair yang dijuluki ‘Paus Sastra Lampung’ itu mengaku sangat bersyukur.  Meminjam pendapat rekannya, penyair Warih Wisatsana (Bali) melalui jalur pribadi: “Kalau sudah 5 besar, itu capaiannya setara sebenarnya,” ujar dia.

Dalam ajang Karya Sastra 2020, Majalah Tempo menjaring lebih dari 100 judul buku puisi. Karya-karya itu kemudian dinilai dewan juri yang terdiri dari Seno Gumira Ajidarma, Faruk HT, dan Zen Hae.

Berita Populer  Petugas Medis Di Tangsel Sembuh Dari Covid-19, Ini Pesan Buat Masyarakat

Buku puisi karya Isbedy  masuk lima besar bersama buku puisi karya Dea Anugerah, Sapardi Djoko Damono, Afrizal Malna, dan Triyanto Triwikromo.

Melalui akun facebooknya, Senin malam, Isbedy juga mengomentari dinobatkannya buku puisi karya Sapardi dan Afizal dan prosa karya Minanto (novel Aib dan Nasib) sebagai karya sastra pilihan Tempo 2020.

“Keputusan juri harus dihargai walau untuk puisi (penyair) ada 2 tokoh. Saya bahagia telah diantar BELOK KIRI JALAN TERUS KE KOTA TUA sampai ke 5 besar. Ini prestasi kedua setelah di Badan Bahasa Kemendikbud RI juga tahun 2020 untuk KINI AKU SUDAH JADI BATU!” tulis Isbedy.

Berita Populer  Ulama Tolak RUU-HIP

Status itu mendapat tanggapan (like) cukup banyak, dan komentar yang positif dan memberi semangat juga tak kalah banyak.

Isbedy mengatakan, pada 2021, dirinya tidak punya target khusus. Ia hanya berharap diberi kesehatan oleh Tuhan dan dikuatkan kreativitas berkarya.

Isbedy menyatakan, sebagai tugasnya adalah berkarya dan berkarya. Menulis seproduktif mungkin dengan tetap menjaga kualitas karya.  “Lalu saya terbitkan jadi buku di penerbit mana saja,” kata dia.

Berita Populer  Relaksasi PSBB, Mahfud MD Bikin Rakyat Makin Gelisah

Isbedy juga menjaga stamina agar bersemangat menyebarkan karya-karyanya ke media massa atau pun penerbit buku di luar Lampung.

“Bagi saya Lampung ini subur untuk berkarya, meski tandus buat berkompetisi dan fasilitas. Kita kurang memiliki ruang dialog, Lampung juga tak punya fasilitas bagi seniman yang berkarya dan potensi. Maka satu-satunya ialah kalau mau bertahan berkesenian, ya kompetitif di luar Lampung,” katanya.

Berita Terbaru