Mahasiswa Indonesia di Tim Vaksin AstraZeneca Bicara Soal Penggumpalan Darah

NKRIKU, Jakarta – Indra Rudiansyah, mahasiswa program doktoral dari Indonesia di Institut Jenner, University of Oxford, Inggris, bicara tentang efek samping pembekuan atau penggumpalan darah dari penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Indra adalah satu dari dua orang Indonesia yang terlibat dalam pembuatan vaksin AstraZeneca tersebut. Indra membantu dalam riset respons imun dari 20 ribu peserta uji klinisnya sepanjang Maret 2020 hingga Maret 2021.

Berita Populer  Kasus Covid Tambah 7.199 Orang, Ini 10 Provinsi Penambahan Terbanyak

Tentu saja, Indra menambahkan, setiap efek samping perlu mendapatkan perhatian. Indra kini telah kembali ke fokus riset pengembangan vaksin Malaria tapi dia memastikan kalau Sarah Gilbert dan tim pengembangan Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Institut Jenner tidak diam saja menerima laporan aneka efek samping.

Mereka disebutnya senantiasa mencatat, menginvestigasi, menyiapkan mitigasi jika terjadi efek samping yang tidak diinginkan nantinya dari penggunaan vaksin yang sudah dibuat. “Semua obat itu pasti ada efek sampingnya, tergantung bagaimana kita bisa mitigasi atau tidaknya,” katanya memberi ilustrasi.

Berita Populer  Lindungi Pengemudi dari Zona Merah, Gojek Pakai Geofencing di Jakarta

Selama pengembangan vaksin, Indra telah menghabiskan waktu rata-rata 10 jam di laboratorium setiap hari. Di Institut Jenner dia fokus mengembangkan vaksin-vaksin untuk melawan penyakit menular seperti HIV, Ebola, dan penyakit-penyakit yang potensial menyebabkan pandemi seperti SARS, MERS, dan yang sekarang Covid-19. Youtube

Indra, 29 tahun, adalah peneliti dari PT Biofarma yang mengenyam pendidiikan S1 dan S2 di Insititut Teknologi Bandung (ITB). Dia menerima beasiswa LPDP program doktoral di Oxford sejak 2018 dan bergabung dalam kelompok pengembangan vaksin malaria pre-erythrocytic di Institut Jenner.

Berita Populer  Malaysia Kembangkan Alat Tes Covid-19 Lewat Sampel Air Liur

Pengembangan Vaksin AstraZeneca sempat menghentikan Indra Rudiansyah dari riset utamanya itu sepanjang setahun penuh. Institut Jenner memang memutuskan semua kelompok riset yang ada mendukung riset dan produksi vaksin Covid-19 pada tahun lalu.  

Baca juga:
Vaksin AstraZeneca Halal atau Haram? Dosen ITB Beberkan Cara Produksinya

Berita Terbaru