Mandiri Ramal Tak Banyak Penambahan Restrukturisasi Kredit Terdampak Covid-19

NKRIKU, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memprediksi tidak ada banyak penambahan debitur yang mengajukan restrukturisasi kredit dampak COVID-19 setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memutuskan memperpanjang pemberian relaksasi tersebut hingga 2021.

“Walau dengan adanya PSBB (pembatasan sosial berskala besar), dampak terhadap UKM tidak akan terlalu besar,” ujar Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin, Senin (26/10/2020). 

Bank pelat merah berkode emiten BMRI ini telah merestrukturisasi kredit 406.434 debitur UMKM terdampak pandemi Covid-19 dengan nilai outstanding Rp47,7 triliun per 30 September 2020 untuk mendukung keberlangsungan usaha. Secara keseluruhan, total kredit yang direstrukturisasi sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 mencapai Rp116,4 triliun dari 525.665 debitu.

baca juga:

Ahmad memprediksi dari jumlah pelaku usaha yang direstrukturisasi itu, terdapat 10-11 persen debitur tidak bisa bangkit kembali.

“Itu yang kami antisipasi mungkin tahun depan kami harus downgrade NPL karena tidak ada gunanya merestrukturisasi debitur yang sudah mati atau tidak bisa bangkit,” terangnya.

Sementara itu, persentase kredit bermasalah (NPL) secara keseluruhan untuk konsolidasi BUMN ini mencapai 3,33 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 2,53 persen.

Sebelumnya, OJK memutuskan memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit selama setahun untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Hingga 28 September 2020, OJK mencatat realisasi restrukturisasi kredit mencapai Rp904,3 triliun untuk 7,5 juta debitur. Sedangkan OJK mencatat NPL pada September 2020 mencapai 3,15 persen, menurun dibandingkan bulan sebelumnya mencapai 3,22 persen.

Sebagai informasi, sebelumnya diberitakan penyaluran kredit Mandiri secara konsolidasi yang meningkat 3,79 persen secara year on year menjadi Rp873,73 triliun pada akhir September 2020. 

Berita Terbaru