Negara Kaya Disebut Borong Lebih Separuh Calon Vaksin Covid

Jakarta, NKRIKU Indonesia —

Negara-negara kaya yang mewakili 13 persen dari populasi dunia dilaporkan telah memborong lebih dari setengah calon vaksin corona.

Organisasi non-pemerintah, Oxfam menemukan fakta tersebut setelah menganalisa data yang dikumpulkan oleh perusahaan analisis Airfinity.

Oxfam meneliti kesepakatan yang dibuat oleh produsen farmasi untuk lima kandidat vaksin yang saat ini sedang uji coba tahap akhir.

Lima vaksin tersebut yakni AstraZeneca, Gamaleya/Sputnik, Moderna, Pfizer dan Sinovac.

“Akses ke vaksin seharusnya tak bergantung pada di mana Anda tinggal atau berapa banyak uang yang Anda miliki,” kata Robert Silverman dari Oxfam America seperti dikutip dari AFP, Kamis (17/9).

Berita Populer  Pendapatan Garuda Turun 90 Persen Akibat Corona

“Pengembangan dan persetujuan vaksin yang aman dan efektif sangat penting, tetapi yang sama pentingnya adalah memastikan vaksin tersedia dan terjangkau untuk semua orang.”

Oxfam menghitung kapasitas produksi gabungan dari lima kandidat vaksin ini mencapai 5,9 miliar dosis, cukup untuk tiga miliar orang di dunia.

Kesepakatan ini telah disetujui untuk 5,3 miliar dosis. Dari jumlah itu, 2,7 miliar dosis atau 51 persen telah dibeli oleh negara, wilayah, dan kawasan maju, seperti Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Australia, Hong Kong dan Makau, lalu Jepang, Swiss serta Israel.

Berita Populer  Protokol Kesehatan Rumah Ibadah selama PSBB Transisi Jakarta

Sementara sisanya 2,6 miliar dosis telah dibeli oleh atau dijanjikan ke negara-negara berkembang antara lain India, Bangladesh, China, Brasil, Indonesia dan Meksiko.

Organisasi nirlaba tersebut menambahkan bahwa kandidat vaksin yang dikembangkan oleh Moderna, telah menerima 2,5 miliar dolar dari uang pembayar.
Namun perusahaan itu memilih menjual semua pasokan ke negara-negara kaya karena ingin mendapatkan keuntungan.

Berita Populer  32 Tenaga Medis di Takalar Sulsel Terinfeksi Virus Corona

Oleh karena itu, Oxfam dan organisasi lain menyerukan agar vaksin bisa didistribusikan secara adil dan merata tanpa biaya alias gratis.

“Ini hanya akan mungkin jika perusahaan farmasi mengizinkan vaksin diproduksi seluas mungkin dengan membagikan pengetahuan mereka secara bebas tanpa paten, daripada melindungi monopoli mereka dan menjual kepada penawar tertinggi,” kata Oxfam.

Virus corona kini telah menginfeksi 30 juta orang di seluruh dunia dan mengakibatkan 945.159 kematian.

(dea)

[Gambas:Video NKRIKU]

Berita Terbaru