Nigeria Masuk Jurang Resesi, Ekonomi Minus 3,62 Persen


Jakarta, NKRIKU Indonesia —

Nigeria terjerat resesi ekonomi untuk kedua kalinya dalam empat tahun terakhir. Sumber resmi pemerintah mengatakan resesi disebabkan penurunan harga minyak serta terganggunya aktivitas ekonomi di tengah pandemi covid-19.

Biro Statistik Nasional (NBS) Nigeria mencatat PDB riil negara kaya minyak itu pada kuartal ketiga 2020 menyusut sebesar 3,62 persen. Sebelumnya, pada kuartal kedua, ekonomi Nigeria mengalami kontraksi hingga enam persen.

Berita Populer  Pertama dalam 3 Dekade, Filipina Kena Resesi karena Corona

“Dengan demikian PDB kumulatif untuk 9 bulan pertama tahun 2020 oleh karena itu berada di minus 2,48 persen,” ucap NBS seperti dikutip dari AFP, Minggu (22/11).

NBS mencatat PDB terkait minyak menyusut 13,89 persen pada kuartal ketiga atau lebih buruk dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar minus 6,63 persen. Sementara, PDB nonmigas menyusut 2,51 persen pada periode yang sama, dibandingkan dengan minus 6,05 persen pada kuartal kedua.

Berita Populer  Airlangga Harap Indonesia Keluar Resesi pada Kuartal IV

Sebelumnya, negara dengan perekonomian terbesar di Afrika itu mengalami resesi pada 2016 dan merupakan yang pertama dalam lebih dari dua dekade. Selang setahun, ekonomi mulai bangkit meski lajunya lambat.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Nigeria terkontraksi 5,4 persen sepanjang tahun ini. Sedangkan. pemerintah memperkirakan ekonomi menyusut 8,9 persen.

Berita Populer  Arab Saudi Jadi Tuan Rumah G20 Bahas Krisis Ekonomi Global

Sebagai informasi, Nigeria merupakan produsen minyak utama Afrika dan biasanya menghasilkan produksi rata-rata dua juta barel per hari. Namun, dampak pandemi covid-19 dan harga minyak yang rendah telah memangkas produksi menjadi sekitar 1,4 juta barel.

[Gambas:Video NKRIKU]

(hrf/sfr)

Berita Terbaru