OPINI: HmI dan Independensi

bergabung di nkriku.com

NKRIku.Com– Sebentar lagi Himpunan mahasiswa Islam akan merayakan pesta demokrasi di Kongres Ambon ke XXX mendatang. Lakon-lakon politik sudah disiapkan oleh segenap komponen kader Himpunan mahasiswa Islam, ada yang bermain di wilayah media facebook whats up untuk memperkenalkan bakal calon ketua PB HmI di Indonesia.


Dukung kami dengan ngelike fanspage Add Friend

Akan tetapi ketika melihat philosofi HmI secara mendalam, HmI tidak hanya sekedar memperkenalkan diri identitas melalui perayaan akbar kepada publik, yang sepak terjang dan perayaan yang terlihat begitu mewah, Philosofi HmI patut dipahami secara mendalam menggunakan kacamata Islam dan Intelektual, percuma ketika kita memperbincangkan Himpunan mahasiswa Islam sebagai organisasi besar di Indonesia yang mengetengahkan dua aliran besar Organisasi Islam di Indonesia melalui organisasi Muhammadiyah dan NU hanya pada ala kadar persoalan politik semata, tanpa kembali merfresh philosofi ke-HmI-an yang berwatak dan berprinsip.

Menyikapi isu yang diwacakan oleh segenap kader terlihat sangat ambiguitas seakan-akan mereka lebih memahami akar Himpunan mahasiswa Islam secara kompherensif, banyak sekali utaran-utaran yang disampaian seakan mereka merupakan ahli ilmu politik dan strategi yang telah disiapkan oleh segelintir elite maupun ahli strategi tertentu. Padahal, pada kenyataannnya pengetahuan ke-HmI-an mereka hanya pada tataran teks semata, bagaimana konsep Ke-HmI-an mengajaran tentang perjuangan, kemerdekaan kebebasan, hal itu yang perlahan-lahan mulai hilang dari wacana ke-HmI-an kontemporer. Oleh sebab itu, memahami HmI perlu dikesesuaikan antara teks dan konteks zaman
Paradigma ke-Hmi-an sangatlah jelas terbawa arus praktisisme dan prgmatisme politik telah menjadi arah orientasi kepada beberapa kader, sehingga kader yang memeroleh serpihan pengetahuan praktis dan pragmatisme tersebut, geram salah kaprah dan membuat perusakan destruktif. Melalui sebuah kepentingan kelompok dan otoritas tertentu.

Ada dua hal yang mendasari kongres HmI ini semaikn menarik, pertama, kongres Ambon merupakan refleksi historisistas watak ke-Maluku-an di dalam sebuah pertarungan kontestasi manusia-manusia Indonesia, di mana posisi orang maluku dalam hal ini kader HmI asal Maluku yang akan bertarung bagaimana kemampuan membacanya merasanya kemampuan memposisikan diri yang berkarakter tanpa membuat sebuah kegaduhan. Kongres HmI ini akan terbaca kepada publik secara ekstensif bagaimana mental-mental jong Ambon, Jong Halmahera Jong Ternate jong Tidore dan Jong Sanana semua terwujud dari sikap-sikap yang mereka tunjukkan ketika kongres ke depannya.

Kedua, bagaimana relasi universal manusia-manusia Indonesia yang bertarung dengan sebaik-baiknya, kesalingpengertian antara HmI se Indonesia, kader Makassar akan berpikir bahwa HmI Maluku-Maluku Utara adalah ’keras’ kuat secara mental dan intelektual, begitu pun kader HmI Maluku memandang kader Makassar yang tangguh dan kuat secara mental dan Intelektual begitu pun jong Sumatera kader Himpunan mahasiswa Islam dll. Relasi inilah bagi penulis yang akan melahirkan intelektual penyaringan kader sebaik-baiknya, melahirkan seorang pemimpin yang bermental baja, melahirkan seorang pemimpin yang kuat membaca, merasa dan bertindak logis, semua tergantung dari penentuan kongres Himpunan mahasiswa Islam ke XXX ke depannya di Ambon Maluku.

HmI dalam pusaran zaman peralihan yang sungguh keras menghantam samudera kehidupan, yang terus memukul bagaikan ombak kencang yang menghantam eksistensi manusia begitu pun organisasi kita Himpunan Mahasiswa Islam yang sudah berkali-kali dihantui ketakutan, kekhawatiran kegaduhan atas fenomena hidup yang penuh liku dan tantangan. Sebuah problema besar mungkin bagi hmI yang belum terjawab tuntas secara menyeluruh yakni bagaimana membawa masyarakat Indonesia menuju kehidupan yang berintelektual dan makmur (bukan makmur utama tokoh besi china di kota Ternate) problema tersebut, menurut hemat penulis yang belum tuntas terjawab secara baik oleh bangsa kita khusus kader Himpunan mahasiswa Islam, kelengahan kita akibat terpuruk dalam satu kotak pikiran demokrasi yang goncang gancing, masing-masing dari kita terjebak dalam perdebatan politik yang tak berkesudahi kenapa, sebab politik yang diperbincangkan merupakan murni politik kepentingan kelompok tertentu saling membunuh, saling membenci saling menghakimi kata tersebut sudah berkecamuk dan tumbuh bagai jamur dalam pikiran kader kita, lantas apakah berpengaruh pada dinamika politik intelektual Hmi ya, bisa saja, HmI akan berhadapan dengan masing kubu menunjukkan arogansi masing-masingnya, namun tak khayal jika semuanya kita kembalikan pada khittah perjuangan kolektif HmI yang sama.

Menurut hemat penulis tantangan zaman bagi HmI di era kontemporer ini ialah bagaimana HmI harus mampu mengetengahi politik Indonesia secara normatif maupun moralistik, bagaimana sikap HmI harus dikembalikan seperti sedia kala, memperjuangkan keadilan dan kebenaran, memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan kedilan sosial ekonomi, sebab, masalah faktual ekonomi sampai saat ini masih pincang elite kita di Indonesia terlihat sibuk mengurus pilkada, presiden dan tim pemenangnya juga sebaliknya membangun opini masyarakat untuk membahas calon pemimpin presiden Indonesia pada 2019 ke depannya, namun persoalan kemanusiaan yang jelas konkrit dan fundamental, jarang sekali digelitik bahkan dikritisi oleh HmI, pada kenyataannya kita menemukan perananan HmI di lapangan hanyalah pada saat moment tertentu, seakan khittah perjuangan HmI sudah jelas-jelas tertelan oleh zaman, HmI yang diibaratkan sebagai aktivis jalanan hampir semuanya sudah beralih ke podium politik dan demokrasi sangat memilukan kita telah mematikan perjuangan HmI bukan HmI yang mematikan, atau anggapan sebaliknya sebuah rezim kontemporer mampu menundukkan HmI di jalur perjuangan yang ber-api-api.

Di usia 70 tahun ini eksistensi HmI sangatlah kokoh fondasi yang dikonstruksi oleh eksponen Ummat dan Bangsa oleh Lafran pane dan empat belas orang lainnya merupakan sebuah fenomena khas yang diberikan terhadap Ummat bangsa dan peradaban, nilai yang dibangun nilai Islam dan ke-Indonesiaan yang secara konkrit memang memanifestasikan arti dakwah Islam dan perjuangan melepaskan manusia dari kemiskinan sosial dan intelektual bangsa. Cita-cita kita bukanlah menjadi haus akan kekuasaan, dan membangun kelompok tertentu guna agenda politik secara besar-besaran. Namun, tugas kita sebagai aktor intelektual HmI bagaimana membangun kesadaran sosial bernegara secara baik, seperti memberitahukan kepada khalayak bahwa cita-cita kemerdekaan itu ada, kesejahteraan dan keadilan itu ada bagi yang melarang, menghalangi dengan membungkam suara perjuangan maka mari kita kuatkan kembali cita kolektif kita HmI sebagai Organisasi untuk Ummat dan Bangsa, independensi ke-HmI-an terletak pada idealisme dan rasionalisasi yang dibangun baik alam pikirannya maupun alam kenyataan.

Oleh : Ahlan Mukhtari Soamole
HMI : Pengurus Kom. Teknik UVRI

bergabung di nkriku.com bergabung di nkriku.com