oleh

Opini: Review Debat Antara Fakta atau Hoax

Gowa,NKRIku– Debat tunggal Calon Presiden (Capres) tadi malam menyisakan banyak cerita unik. Tak terkecuali dalam catatan Renny Putri Harapan Rani Rasyid S.I.Pem,M.AP., dituangkan dalam Opini.

Di awal tulisan Renny, ingin mengajak publik untuk sejenak berbaik sangka bahwa dua Capres kita beserta timnya, tentu telah menyiapkan diri dengan matang sebelum berlaga dalam debat.

Loading...

Tetapi pada akhirnya, kritik dan koreksi dipastikan terjadi dimana-mana setelah melihat fakta dalam debat, lalu mengapa saya sebut fakta atau hoax.

Sebab pada debat semalam dua peserta debat beberapa kali menampilkan kejutan yang sebelumnya Unpredictable.

Melansir dari kompas.com yang menyatakan dua Capres tak bisa lagi sembarangan menyampaikan pernyataan, sebab sejumlah media siap melakukan cek fakta terhadap pernyataan kandidat.
Diketahui bahwa Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Mafindo, dan Google News Initiative telah menggagas program cek fakta, dan pada setiap tahapan debat cek fakta ini juga akan didukung tim ahli dari sejumlah lembaga yang punya kompetensi sesuai tema debat.

Bahkan, tahun ini 24 media online arus utama di Indonesia dan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) akan melakukan kolaborasi untuk cek fakta yang dilakukan bersama.

Kembali menyoal debat semalam jelas akan panen kritik, secara objektif dapat kita urai bahwa Capres nomor 01 akan lebih rentan dikritik karena selain merupakan incumbent, juga pak Jokowi cenderung lebih banyak memaparkan data dan “hasil kerja” era pemerintahannya dibandingkan menyampaikan visi dan program yang ditawarkan untuk ke depannya.

“Entah Jokowi mengetahui bahwa telah ada program “cek fakta” yang bisa diakses langsung melalui mesin pencari google atau tidak mengetahui, namun yang jelas langkah Jokowi menampilkan data adalah resiko yang bisa jadi blunder dan berdampak terhadap menurunnya kepercayaan publik,” kata Renny.

Kenyataannya benar saja, berselang beberapa jam setelah debat, sontak publik dan netizen di dunia maya ramai berkomentar dan melakukan recheck perihal benar tidaknya data yang disampaikan Jokowi tersebut.

Berbeda dengan Prabowo yang nampak lebih menuangkan gagasan dan strateginya melalui narasi, deskriptif, terkait konsep yang relevan dengan kondisi bangsa. Dianggap kurang tajam, bahkan Prabowo masih terkesan setengah-setengah dalam mengguncang panggung debat.

Ada yang menilai Prabowo lemah dari segi data dan minim program. Bisa jadi demikian, akan tetapi yang dominan dari Prabowo justru dirinya seolah memperlihatkan sikap legowo, dan keberterimaannya terhadap kesamaan visi oleh siapa saja yang menginginkan bangsa ini membaik.

“Untuk sesaat secara fair tindakan ini patut kita apresiasi sekaligus tetap mencermati apa kelebihan dan kelemahan dari strategi capres 02 ini, selaku oposisi dan penantang,” cetus Ketua Umum Nasional De’Polic Indonesia.

Hal lain yang cukup mencengangkan adalah Kejutan “manis” datang dari pak jokowi. “Jika selama ini beliau dikenal kurang mahir dalam pola komunikasinya, mendadak semalam menjadi begitu smooth (lancar) dimana tiap kata teruntai dengan lancar jaya tanpa hambatan.
Interval antar kalimat yang dilontarkan Jokowi, memang terbilang terlalu teratur jika disimak secara seksama. Tak ada yang salah dengan perubahan drastis Jokowi ini, tetapi jelas terdengar aneh sebab Jokowi yang kita kenal selama 4,5 tahun menjadi presiden seringkali terlihat lebih lamban dan terbata-bata saat menjawab Direct Question (pertanyaan langsung) dari media dan publik,” kritik Renny.

Bahwa ada dugaan lain mengenai trik dan strategi di balik performa Jokowi semalam. ” Saya rasa akan kembali kepada bagaimana persepsi publik, dan sejauh mana dugaan tersebut dapat dibuktikan dan tidak grasa grusu menyimpulkan,” cetusnya.

Sorotan lainnya menyangkut aksi Jokowi yang dianggap publik melanggar aturan, debat dengan menyerang personal Prabowo. Ini menjadi kejutan selanjutnya sebab Jokowi mengungkap adanya lahan ribuan hektar yang dikuasai Prabowo. Awalnya Prabowo tak siap dengan serangan tersebut namun akhirnya terjawab dengan pengakuan Prabowo di akhir segmen dengan menyatakan lahan tersebut adalah HGU dan negara bisa mengambilnya kapan saja.

Menariknya closing statement Prabowo justru mempertegas komitmennya yang siap mengcounter kekuatan asing yang selalu ingin menguasai aset negara, dan menegaskan dirinya mengambil alih atas niat nasionalisme dan jiwa patriotisme sebagai kekuatan.

” Last but not least, catatan untuk KPU sebagai penyelenggara untuk lebih memperlihatkan komitmen dan kredibilitasnya menyelenggarakan debat. Mindset penyelenggara kita sepertinya belum move on dari pakem lama, untuk terus terlihat “mengesankan” dalam setiap perhelatan di ruang publik, sehingga jelaslah sudah, bahwa agenda debat tak cukup untuk menjadi navigator bagi kita dalam memilih figur pemimpin,” katanya kepada media nkriku.

Menilai gagasan dan konsep calon pemimpin jelas butuh pendalaman yang utuh terkait kefiguran itu sendiri, durasi singkat dan dugaan settingan dalam debat hanya akan menciptakan berbagai dugaan dan sikap Apriori publik, yang berujung pada kegagalan menyingkap “originalitas” calon pemimpin.

“Terlalu banyak gimmick, settingan dan upaya membonsai opini publik seperti telah terbiasa dilakonkan oleh para elit politik di tanah air. Mimpi rakyat Indonesia untuk memperoleh pemimpin yang terbaik, dari yang terbaik, toh sudah dihancurkan dari awal ditetapkan aturan PT 20%. Sirna sudahlah kesempatan bagi para kader-kader terbaik bangsa untuk mengampuh kesempatan, memberikan hal terbaik bagi rakyat. Dan sebetulnya kita patut menduga, bahwa sesungguhnya demokrasi itu belum pernah bet

ul-betul ada di indonesia. Selebihnya?? Maka biarkan publik menilai,” tegasnya.

Mengutip Teoretisi Populisme, Ernesto Laclau. Artinya, bila strategi berbagai startegi sukses melambungkan popularitas elektoral dari para elite, kita akan kian sulit berharap demokrasi mengerek program-program yang secara konkret mengadvokasi, mengawal kesejahteraan kelompok warga yang membutuhkannya.

Kontestasi politik akan menjadi peragaan dan peraduan heroisme yang mengawang. Artikulasi-artikulasinya nampak menawan bagi sebanyak-banyaknya pemilih namun, pada saat yang sama, tak merangkul siapa-siapa. (Geger Riyanto, Esais dan Peneliti).

Loading...

Baca Juga: