Perluasan Lahan Tak Menjamin Pecut Produktivitas Pangan!

NKRIKU Perluasan lahan tidak menjamin peningkatan produktivitas pangan nasional dan malah berpotensi merusak lingkungan serta memperparah krisis iklim. Sehingga tidak boleh dijadikan solusi utama dalam menjawab tantangan pangan Indonesia.

“Jumlah penduduk terus meningkat. Namun jumlah lahan yang tersedia akan tetap sama dan harus berbagi dengan kebutuhan infrastruktur dan industrialisasi. Sehingga, kemampuan produktivitas di lahan pertanian yang ada harus ditingkatkan untuk bisa mengikuti pertumbuhan permintaan makanan,” ungkap Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Felippa Ann Amanta lewat keteragannya, Kamis (14/10/2021).

Sayangnya, produktivitas sektor pertanian di Indonesia masih rendah karena kurangnya riset dan inovasi untuk asupan yang unggul, serta keterbatasan adopsi praktik budidaya yang baik dan penggunaan teknologi pertanian.

Berita Populer  I&P Indonesia dan Ikaned Bahas Solusi dan Tantangan Krisis Iklim di RI dan Belanda

Pencetakan sawah baru, apalagi di lahan gambut, akan menghabiskan waktu yang lama. Selain belum tentu bisa membantu kekurangan stok pangan yang terjadi, karakteristik lahan yang dibuka untuk pertanian juga belum tentu cocok.

“Proyek mencetak lahan sawah baru tidak tepat untuk meningkatkan ketahanan pangan. Jika dilakukan secara tergesa-gesa, proyek pencetakan lahan sawah baru yang memakan modal besar ini malah menimbulkan risiko gagal panen yang merugikan petani dan risiko kerusakan lingkungan yang lebih besar,” bebernya.

Felippa mengungkapkan program cetak sawah dengan membuka lahan juga berisiko mengancam ekosistem yang ada hingga merusak keseimbangan lingkungan. Untuk itu, pemerintah sebaiknya tidak mengulang kesalahan dengan menciptakan program pencetakan sawah secara masif.

Berita Populer  RIB: Krisis Iklim di Depan Mata, Tapi Pemerintah Kurang Serius

Pengalaman Proyek Pengembangan Lahan Gambut Satu Juta Hektar di Kalimantan Tengah yang pernah dilakukan di bawah pemerintahan Presiden Soeharto menunjukkan bahwa lahan gambut tidak cocok untuk  padi. Pengolahan lahan gambut juga membawa risiko lingkungan yang besar akibat pelepasan karbon ke udara sehingga akan memperparah perubahan iklim.

“Saat itu yang terjadi malah gagal panen dan kerugian besar karena sudah mendatangkan para transmigran dari Jawa untuk mengolah lahan yang ternyata tidak sesuai dengan kebutuhan,” jelas Felippa.

Berita Populer  Uni Eropa Gelar Pekan Diplomasi Iklim 2021, Ajak Masyarakat Peduli Krisis Iklim

Pemerintah sebaiknya memperkuat produksi pangan yang ada dengan mendukung riset dan inovasi asupan dan teknologi pertanian serta meningkatkan kapasitas petani agar lebih produktif, termasuk melalui kerja sama dengan pihak swasta.

Penelitian CIPS merekomendasikan peningkatan produktivitas lahan maupun tenaga kerja melalui penggunaan bibit unggul, peningkatan akses pada pupuk, penanganan serangan hama/Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan penggunaan alat mesin pertanian atau mekanisasi. Selain itu, juga dapat dilakukan perbaikan teknik budidaya, perbaikan dan perluasan jaringan irigasi, modifikasi cuaca untuk mitigasi perubahan iklim dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pertanian.[]

Berita Terbaru