Putin Izinkan Alexei Navalny Berobat ke Jerman


Jakarta, NKRIKU Indonesia —

Presiden Rusia Vadimir Putin mengaku secara pribadi memberikan izin bagi pemimpin oposisi, Alexei Navalny untuk menjalani perawatan ke Jerman setelah diracun saraf Novichok.

“Ada permohonan dari istri warga negara ini [Navalny] kepada saya, secara langsung saya katakan kepada jaksa agung Rusia untuk memberikan izin dia pergi ke luar negeri untuk perawatan,” kata Putin seperti mengutip AFP.

Ia menegaskan jika Navalny diizinkan meninggalkan Rusia kendati ada larangan keluar negeri karena pandemi corona.

“Ada pembatasan perjalanan terhadapnya terkait penyelidikan yudisial dan kasus pidana. Tapi saya tetap meminta kantor Kejaksaan Agung untuk mengizinkan pergi,” ucapnya.

Berita Populer  Rusia Respons Baik Rencana Pertemuan China-India

Putin juga mengatakan jika Moskow ingin meracuni Navalny, maka tidak ada izin baginya untuk keluar dari Berlin demi melakukan perawatan.

Putin dan pejabat Rusia lainnya sejauh ini tidak pernah menyebut nama Navalny secara langsung. Juru bicara Puti, Dmitry Peskov baru-baru ini menyebut sosok oposisi pemerintah itu sebagai ‘pasien Berlin’.

Navalny yang sempat pingsan dalam penerbangan dari Siberia pada 20 Agustus lalu sempat mendapat perawatan di Jerman akibat dugaan diracun.

Berita Populer  Top 3 Tekno Berita Hari Ini: Info Cara Covid-19 Menyebar

Ia dikabarkan siuman pada 19 September lalu dan melanjutkan pemulihan di Jerman. Kendati demikian, ia mengatakan kakinya masih gemetar untuk berdiri dan berjalan sehingga kesulitan menaiki tangga.

Navalny adalah salah satu aktivis yang terkenal sebagai pengkritik terbesar Presiden Putin. Advokat itu membeberkan sejumlah bukti bahwa rezim pemerintah Rusia sarat dengan tindakan korupsi.

Pekan lalu, Uni Eropa dan Inggris menjatuhkan sanksi kepada enam pejabat Rusia yang dekat dengan Putin sebagai bentuk hukuman atas kasus keracunan yang dialami Navalny.

Langkah penjatuhan sanksi ini terjadi setelah lembaga pengawas senjata kimia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OPCW) mengkonfirmasi temuan Jerman, Prancis dan Swedia bahwa Navalny diracun menggunakan zat saraf dari kelompok Novichok. Racun itu digunakan untuk keperluan militer dan dikembangkan di era Uni Soviet.

Berita Populer  China Minta AS dan Uni Eropa Akhiri Sanksi di Tengah Pandemi

Racun dari kelompok yang sama juga terdeteksi digunakan untuk menyerang mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, di Salisbury, Inggris, pada 2018 lalu.

Kremlin mengutuk sanksi tersebut dengan menyebutnya sebagai langkah tidak bersahabat dan tidak berdasar terhadap Moskow dan menegaskan akan melakukan balasan.

(evn)

[Gambas:Video NKRIKU]

Berita Terbaru