PVMBG: Jarak Luncuran Awan Panas Guguran Gunung Semeru 11 Kilometer

NKRIKU, Bandung – Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Andiani mengatakan penelitian di lapangan mendapati jejak luncuran awan panas guguran yang terjadi pada saat erupsi Gunung Semeru pada Sabtu, 4 Desember 2021, menembus 11 kilometer di sepanjang aliran sungai di Besuk Kobokan yang berhulu di arah di puncak gunung tersebut.

“Waktu rilis kami yang pertama kami memang belum dapat menjangkau lokasi. Dan kemarin setelah dilakukan penelitian-penelitian di lapangan kami melihat adanya bekas-bekas terjadinya kegiatan awan panas guguran itu pada jarak 11 kilometer,” kata dia, dalam konferensi pers daring, Senin, 6 Desember 2021.

Andiani mengatakan jarak luncuran 11 kilometer dari puncak tersebut mengikuti sepanjang aliran Besuk Kobokan. “Di situ awan panas guguran pada aliran Besuk Kobokan itu meluncur hingga 11 kilometer. Itu hasil penelitian yang kami lakukan kemarin,” kata dia.

Andiani mengatakan Badan Geologi saat ini merekomendasikan agar di sepanjang lintasan awan panas guguran tersebut agar dihindari selama erupsi Gunung Semeru masih belum reda. “Di aliran Besuk Kobokan inilah kemudian yang kami mintakan agar daerah itu dihindari karena memang materialnya masih panas,” kata dia.

Berita Populer  Ahli AS Dokumentasikan Penularan Covid-19 ke Sesama Hewan Peliharaan

Andiani mengatakan, rekomendasi peringatan dini yang diberikan Badan Geologi sebelumnya ada pada radius 5 kilometer di arah bukaan kawah di selatan-tenggara. “Adapun area bukaan hingga selatan-tenggara itu merupakan daerah-daerah KRB (Kawasan Rawan Bencana) yang dulu merupakan daerah aliran awan panas guguran. Namun pada kejadian kemarin itu tidak menunjukkan adanya kerusakan. Jadi sebetulnya 5 kilometer itu adalah peringatan dari awal, peringatan di awal,” kata dia.

Andiani mengatakan, ada sejumlah faktor yang memicu jarak luncuran guguran awan panas menjangkau hingga sejauh itu. “Awan panas guguran terbentuk dari kubah lava atau lidah lava. Karena adanya ketidakstabilan, juga karena adanya gravitasi itu lah yang menyebabkan dia meluncur ke bawah. Jarak luncuran dekat atau tidak, detailnya tergantung dari kemiringan dan materialnya. Ini sangat berpengaruh pada jarak luncuran,” kata dia.

Andiani mengatakan, hujan yang terjadi tidak memicu erupsi. Erupsi gunung api terjadi karena pergerakan aliran magma dari perut gunung api menuju permukaan. “Pergerakan magma ke permukaan itu yang disebutkan energi-energi, salah satunya itu bisa gas, bisa material-material yang dibawa ke permukaan. Sehingga sebetulnya proses keluarnya material dari dalam bumi itu sangat dipengaruhi oleh tenaga dari dalam Bumi itu sendiri. Kejadian erupsi gunung berapi tidak ada hubungannya dengan curah hujan,” kata dia.

Berita Populer  Tanpa Izin, Syuting Sinetron di Pengungsian Korban Bencana Gunung Semeru Dibubarkan

Kendati demikian, curah hujan dapat memicu banjir lahar gunung api. “Curah hujan itu memiliki pengaruh terhadap kejadian lahar. Lahar itu adalah semacam banjir, tapi di dalam banjir itu dapat menampung material-material yang cukup besar. Material-material yang cukup besar itu berasal dari gunung api itu sendiri, airnya berasal dari curah hujan yang cukup tinggi,” kata Andiani.

Andiani mengatakan, timnya saat ini sengaja membawa sejumlah peralatan untuk menghitung volume kubah lava yang masih tersisa di kawah Gunung Semeru untuk mengantisipasi berulangnya kejadian serupa. “Kami tim dari Bandung ke sini membawa alat-alat. Salah satunya kita mengukur volume guguran itu sendiri. Mudah-mudahan kegiatan kami di sini berjalan dengan lancar, dan kita berharap paling tidak kita memiliki data-data terkait dengan kubah lava,” kata dia.

Berita Populer  Hujat Jenderal Dudung, Viral Habib Bahar Dicari Anggota TNI yang Emosi Ini

Andiani mengatakan, pengamatan masih terus dilakukan pada aktivitas Gunung Semeru. Setidaknya dua kali erupsi masih terjadi pada sejak pukul pukul 00.00 WIB hingga 12.00 WIB hari ini, Senin, 6 Desember 2021. Dua erupsi tersebut masih menghasilkan awan panas guguran.

“Dari hasil pemantauan yang kami lakukan sejak jam 12 malam hingga jam 12 siang tadi telah terjadi pada jam setengah empat pagi, serta jam 6-9 terjadi awan panas guguran dengan jarak luncur 2,5 hingga 4 kilometer. Sehingga kami menyarankan agar warga masyarakat menghindari daerah-daerah yang merupakan daerah ancaman guguran awan panas,” kata Andiani.

Kendati jarak luncuran awan panas guguran tidak sebesar erupsi saat 4 Desember 2021, ancamannya masih diwaspadai.

Baca:
Peneliti UGM Ungkap Sejumlah Fakta Letusan Gunung Semeru

Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

Berita Terbaru