Reksa Dana Pasar Uang, Investasi yang Cuan di Tengah Pandemi

NKRIKU Pandemi virus Corona tak hanya menggerus kesehatan masyarakat, tetapi juga berdampak pada segala lini termasuk ekonomi. Roda ekonomi seolah lumpuh dalam sekejap karena berbagai aktivitas dibatasi dalam beberapa bulan.

Kondisi pandemi turut melemahkan pasar saham, termasuk di Indonesia. IHSG ditutup pada posisi 5.813,99 hari ini (2/12/2020). Angka ini masih lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi yang berada di kisaran 6.000.

Salah satu penyebab pasar saham belum kembali ke semula (bounce back) adalah karena masyarakat masih menahan diri dalam berinvestasi. Mereka memilih untuk mengalihkan pos investasi ke kebutuhan sehari-hari atau dana darurat.

baca juga:

Tapi sebenarnya, masih ada instrumen investasi yang dapat dipilih oleh masyarakat dengan risiko lebih rendah dan tidak akan mengganggu dana darurat atau dana alokasi untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satu instrumen tersebut adalah reksa dana pasar uang. Kelebihan instrumen investasi reksa dana pasar uang adalah likuid atau mudah dicairkan.

Masyarakat dapat mencairkan dana di instrumen tersebut kapan pun tanpa harus menunggu periode waktu tertentu seperti di deposito atau mengikuti mekanisme jual-beli seperti di pasar saham. Berkat sifatnya yang likuid, instrumen reksa dana pasar uang pun dianggap cocok digunakan untuk menyimpan dana darurat, terutama selama pandemi seperti saat ini.

Instrumen reksa dana pasar uang juga terjangkau dibandingkan instrumen lainnya. Hal ini memungkinkan siapa saja untuk memulai berinvestasi, termasuk para milenial. Pasalnya, kita dapat membeli reksa dana pasar uang dengan modal hanya Rp10.000 alias ceban.

Meski begitu, persentase imbal hasil keuntungan yang diterima tidak ditentukan oleh besaran setoran. Jadi, berapa pun nilai investasinya, persentase keuntungan yang diterima akan tetap sama sesuai kinerja instrumen reksa dana tersebut.

Sebagai tambahan, keuntungan dari reksa dana tak terkena pajak. Hal ini berbeda bila dibandingkan instrumen lain yang berisiko rendah seperti deposito.

Bila dana yang disetor minim, otomatis bunga atau imbal hasil deposito pun ikut rendah. Belum lagi, keuntungan atau bunga deposito masih harus terkena potongan pajak, dan masyarakat pun perlu menyiapkan dana Rp5 juta sampai Rp8 juta untuk membuka deposito. Tips investasi reksa dana pasar uang

Berita Terbaru