The Washington Post: Trump Semakin Terisolasi, Marah Dan Putus Asa

Mengutip pejabat senior pemerintah, The Washington Post pada Rabu (13/1) melaporkan, Trump marah pada sekutu-sekutu yang tidak membelanya.

Salah satu kemarahan Trump ditujukan kepada Wakil Presiden Mike Pence yang enggan menolak sertifikasi hasil pemilu. Meski begitu, Pence yang dilaporkan memutuskan hubungan dengan Trump juga menolak untuk mengaktifkan Amandemen ke-25 untuk mendepak mantan kawannya.

Selain Pence, Trump juga menyerang pengacaranya sendiri, Rudi Giuliani terkait pembiayaan gugatan hukum pemilu di sejumlah enagra bagian. The Washington Post menyebut, Trump tidak senang dengan biaya 20 ribu dolar AS yang diminta Giuliani.

Berita Populer  Trump Tanggapi Kritikan Soal Main Golf Di Tengah Wabah: Ini Membuatnya Terdengar Seperti Dosa Besar

“Presiden sudah sangat putus asa,” ujar sumber tersebut.

Kemarahan Trump juga semakin menjadi ketika tidak ada yang mendukungnya atas upaya Demokrat untuk memakzulkan dirinya kedua kali. Bahkan sejumlah anggota Republik mendukung upaya tersebut.

“Saya hanya berpikir ini adalah kesimpulan logis dari seseorang yang hanya akan menerima orang-orang di orbit dalamnya jika mereka bersedia untuk benar-benar membakar diri atas namanya, dan Anda baru saja mencapai titik di mana semua orang kelelahan,” terang sumber itu.

“Semua orang berpikir, ‘Saya akan membakar diri saya sendiri untuk presiden Amerika Serikat untuk ini, untuk ini dan untuk ini,’ Tetapi saya tidak melakukannya,” tambah dia.

Berita Populer  Jan Arebo Sayangkan Kelompok Anti Pemerintah "Menggoreng" Isu Kegagalan Papua

Menurut laporan tersebut, Trump saat ini hanya berbicara dengan anggota keluarnya, kepala staf Mark Meadows, wakil kepala staf Dan Scavino, penasihat kebijakan Stephen Miller, dan direktur personalia Johnny McEntee.

Trump juga disebut tidak melakukan banyak pada hari-hari terakhirnya selain menonton televisi dan mengkritik Republik.

“Dia merasa semakin sendirian dan terisolasi dan frustrasi,” ucap sumber itu.

“Itu seperti kematian dengan ribuan luka. Salah satu ukuran yang sering dia gunakan untuk menilai banyak hal adalah: ‘Siapa di luar sana yang mengatakan hal-hal baik tentang saya atau bertempur atas nama saya? ‘Dan dia sepertinya tidak pernah berpikir ada cukup banyak orang yang melakukannya dengan cukup kuat,” lanjutnya.

Berita Populer  OTT Bupati Kutai Timur Ismunandar Beserta Istrinya, KPK Amankan Duit Rp 6,17 M

Malapetaka kerusuhan di Capitol Hill tampaknya telah mendorong Trump ke jurang terdalam. Meski ia menyangkal bertanggung jawab atas insiden yang memakan lima korban jiwa itu, tapi banyak pihak berkata lain.

Trump dianggap telah menghasut ribuan pendukungnya untuk berkumpul di Capitol hingga akhirnya terjadi bentrok. Beberapa pendukungnya merangsek masuk ke gedung parlemen yang tengah menjalankan sesi gabungan Kongres untuk mengesahkan kemenangan Joe Biden.

Berita Terbaru